Oleh: Moses Namukigiba Douw
Hutan Papua bekerja layaknya kipas raksasa yang menstabilkan suhu dan kelembapan dunia, lebih khususnya menjaga wilayah Indonesia tetap sejuk. kelestariannya sangat vital untuk mencegah pemanasan global. Hutan dan Tanah Papua adalah penyerap karbon terbesar di asia pasifik, sehingga memegang kunci penting dalam mitigasi perubahan iklim global.
Hutan hujan terakhir di Dunia Hanya 3 di bumi ini yaitu; Hutan Hujan Amazon (Amerika Selatan): Memiliki luas sekitar 6 juta km², dengan porsi terbesar berada di Brasil; Hutan Hujan Kongo (Afrika Tengah) Blok hutan hujan terbesar kedua di dunia dengan luas sekitar 2 juta km², sedangkan Hutan Hujan Asia Tenggara (Sundaland): Meliputi kawasan pulau Kalimantan, Sumatra, Papua, dan sekitarnya.
Indonesia dan Kongo secara gabungan menyumbang sekitar 20% dari sisa hutan hujan tropis dunia. Dari 20% ini berkurang hingga 16% hutan hujan dengan menyumbangkan suhu udara. “Iklim Bumi lebih tidak seimbang dalam sejarah yang diamati, karena konsentrasi gas rumah kaca mendorong pemanasan atmosfer dan lautan yang berkelanjutan serta pencairan es”. Menurut “Organisasi Meteorologi Dunia (WMO)”. Perubahan cepat dan berskala besar ini telah terjadi dalam beberapa dekade tetapi akan memiliki dampak buruk selama ratusan dan berpotensi ribuan tahun.
The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) - badan international yang dibentuk tahun 1988 oleh Organisasi Meteorologi Dunia dan PBB untuk mengembangkan pengetahuan tentang perubahan iklim - menyimpulkan bahwa lebih dari 50 tahun planet kita telah memanas karena kegiatan manusia yaitu; 1). pembakaran bahan bakar fosil 2), hilangnya serta rusaknya hutan tropis. 3), perubahan pemanfaatan hutan dan lahan (Deforestasi). 4), emisi gas rumah kaca. Dari kesimpulan diatas ini, rusaknya atau deforestasi hutan Papua merupakan pengaruh utama dalam pemanasan global.
Sehingga selama belasan tahun hutan dibabat untuk kepentingan umum atau kepentingan kesejahtraan bangsa melalui Program PSN (Proyek Strategis Nasional) dengan tujuan mempercepat pemerataan pembangunan, mendongkrak pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan akses layanan publik di seluruh wilayah Indonesia. Perencanaan program ini berkesinambungan dengan terjadinya pemanasan global yang sangat ganas hingga korban jiwa diseluruh dunia.
Jutaan hektar hutan Papua dibabat hingga Pemerintah Indonesia merencanakan target cetak sawah dan optimalisasi lahan secara masif, dengan luasan yang mencapai lebih dari 1 juta hingga 2 juta hektar di wilayah Papua Selatan sedangkan wilayah lainya di Papua belum terhitung.
Tentu pembabatan hutan hujan Papua ini mendapat rekor dunia bahwa deforestasi terbebar di dunia seluas 2 juta lebih hektar dikeruk habis atas nama kepentingan negara, dan hal yang samapun di lakukan diberbagai negara yang menyumbang oksigen secara global untuk dunia seprti Amazon di Brazil dan Kongo di Afrika Tengah.
Berdasarkan data Global Forest Watch, luas hutan alam di wilayah daratan pulau Papua (termasuk wilayah Papua Nugini), diperkirakan mencapai 33 Juta sampai 42 juta hektar adalah benteng pertahanan iklim global yang menyimpan sekitar 15 miliar ton karbon. Berfungsi sebagai jantung terakhir Asia Pasifik, hutan ini menyerap emisi global dan menyeimbangkan iklim dengan memproduksi oksigen.
Deforestasi hutan hujan ini terjadi juga di beberapa negara yakni Kongo dan juga Amazon. 3 Wilayah ini menjadi terakhir yang bisa mengatur suhu udara di seluruh dunia. Sebab hutan di wilayah ini berada di Garis khatulistiwa yang notabene berada di tengah. Dengan dikelilingi gurun dan samudra yang luas.
Pengembangan hutan sebagai wilayah strategis nasional (PSN) di Indonesia ini mendasari terjadinya perubahan iklim dunia hingga pada bulan Juli 2026 mengalami peningkatan suhu harian di berbagai wilayah Indonesia dilaporkan mencapai kisaran 35°C hingga 38°C.
Namun berdasarkan BMKG mencatat beberapa daerah seperti Palu, Jawa Tengah, Kalimantan, dan Papua termasuk wilayah yang mengalami suhu tertinggi. Peningkatan ini dipicu oleh kurangnya produksi oksigen di beberapa wilayah Indonesia termasuk Papua sehingga gerak semu matahari dan dominasi angin dari benua Australia.
Meskipun dominasi angin dari benua Australia, hutan di Papua, Amazon dan Kongo adalah kompas bagi pemanasan global dan iklim di bumi. Deforestasi Hutan Papua, Kongo dan Amazon ini menjadi perhatian serius dunia pada tahun 2026. Eropa memantau ketat krisis ini melalui implementasi regulasi rantai pasok global dan pemantauan satelit untuk menekan laju kerusakan ekologis lintas benua.
Eropa tetap khawatir karena titik kritis (tipping point) ekosistem hutan dapat berubah menjadi sabana akibat pemanasan global yang diperparah oleh alih fungsi lahan. Hutan Papua terbesar ketiga di dunia ini pun menjadi pusat perhatian utama aktivis eropa dan publik karena tingginya laju deforestasi akibat ekspansi perkebunan (sawit dan tebu), pertambangan, dan proyek skala besar yang mengancam wilayah adat serta satwa endemik.
Gelombang panas ekstrem memecahkan rekor suhu diseluruh dunia memicu lebih dari 14.000 jiwa meninggal. Bersamaan dengan itu, wilayah Papua berada dalam kondisi krisis ekologis akibat kawasan rawa, hutan hujan tropis digambut Proyek Strategis Nasional (PSN) Papua Selatan di tengah musim kemarau panas.
Tidak hanya di Papua, udara panas dan kering dari Gurun Afrika Utara hingga Arabia, Gurun China dan Australia, Amerika dan Eropa terjebak di suatu wilayah karena terhimpit oleh sistem tekanan suhu udara dari Amazon, Papua dan Kongo sangat rendah. Hal ini mengakibatkan suhu udara melonjak hingga 38°C derajat diatas rata-rata musiman bahkan di Eropa melonjak hingga 41°C
Rendahnya sistem iklim, suhu dan tekanan udara dari Amazon, Papua dan Kongo ini terjadinya panas ekstrim di wilayah bumi bagian utara. Beberapa negara yang saat ini mengalami gelombang panas ekstrem dengan rekor suhu tertinggi melampaui 41° C meliputi Prancis, Spanyol, Jerman, Italia, dan Republik Ceko. Di wilayah Asia seperti Jepang, India, Pakistan, Thailand dan China. Amerika pun demikian menghadapi cuaca panas ekstrem yang memicu masalah kesehatan hingga lonjakan kematian.
Gelombang panas ini tidak hanya memecahkan rekor historis, tetapi juga memicu krisis lokal seperti kerusakan infrastruktur (misalnya rel kereta yang melengkung di Jerman) serta kebakaran hutan yang mengancam permukiman serta kematian bersejarah, khususnya di wilayah Eropa Barat.
Suhu udara di Jepang dilaporkan melonjak drastis hingga menembus angka 40°C. Fenomena yang disebut kokushobi (hari dengan panas sangat terik) ini dipicu oleh kepungan sistem tekanan udara tinggi dari Samudra Pasifik Selatan. Fenomena ini di rasakan hingga Papua bertahan hingga 4 bulan mengalami musim kemarau dan suhu panas hingga 30°C. -31°C.
Panas ekstrem di Eropa telah memicu lonjakan angka kematian yang mencapai lebih dari 10.000 jiwa. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mayoritas korban adalah kelompok lanjut usia (lansia) di atas 65 tahun. Fenomena "pembunuh senyap" ini memicu suhu hingga menembus 40°C diwilayah tersebut.
Fenomena ini menjadi salah satu gelombang panas terburuk dalam sejarah, memicu peringatan darurat, WHO telah mendesak pemerintah Eropa untuk mengaktifkan rencana aksi darurat kesehatan. Angka kematian dini akibat sengatan panas (heat stroke) mencapai sekitar 6.800 jiwa di Jerman, 2.000 di Prancis, 1.740 di Belgia, dan 911 di Belanda dan negara lainya, hingga pada 22 Juli 2026 Otoritas Kesehatan Dunia mencatat jumlah korban panas ekstrim sekitar 14.000 di seluruh Dunia.
Kondisi kritis ini disebabkan oleh beberapa fenomena iklim yaitu; 1), Program Deforestasi di Indonesia yakni PSN Merauke Papua, Deforestasi Hutan Hujan Kongo dan Amazon 2), blok Omega dan kubah panas (heat dome) di Eropa yang memerangkap udara panas dari Afrika Utara, juga merupakan berkurangnya hutan hujan di Afrika Tengah. 3), setelah terjadinya pembabatan liar di berbagai negara Tekanan Suhu udara kini menahan pembentukan udara dan awan hingga muncul Panas Ekstrim.
Oleh sebab itu, untuk menekan angka panas ekstrim Bumi ini perlu Perencanaan yang masif dan terstruktur guna menyelamatkan bumi dari serangan suhu panas. Penulis pernah membaca beberapa buku tentang Green Action maka perlu untuk memberikan ringkasan yakni;
1).Kota Hijau (Green Urbanism): Memperbanyak ruang terbuka hijau, membangun koridor angin di kawasan perkotaan, serta mengadopsi atap dan dinding hijau untuk menurunkan panas di perkotaan (urban heat island);
2).Green Deen, Ajaran Islam yang bagaimana menghormati Ciptaan Tuhan karena ciptaanya tidak sia sia untuk menjaga Alam Semesta, bahkan Islam mengajarkan bumi adalah masjid isinya adalah suci. Artinya hutan adalah anugrah Tuhan maka patut di jaga;
3).Green Politik mendukung gagasan yang sama dengan gerakan konservasi, Lingkungan Hidup, feminisme dan perdamaian. Selain permasalahan terkait dengan lingkungan, politik hijau lebih perhatian pada kebebasan sipil untuk menantang kekuasaan Negara dalam merampas hutan adat untuk kepentingan kelompok atas nama Negara;
4) United Nation Forum on Forest (UNFF) atau forum PBB harus menekan maraknya Deforestasi di Asia (Merauke, Nabire Kalimantan, Sumatra dan lainya) agar pemanasan Ekstrim ini tidak terjadi pada masa mendatang;
5) Laodato Si Legasi Paus Fransiskus bagi kelestarian Ekologis. Laodato Si memingatkan kepala umat manusia di bumi bahwa kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita tetapi kita meminjamnya dari anak cucu kita.
Upaya upaya menekan panas ekstrim ini perlu terus di perjuangkan oleh otoritas lingkungan dunia melalui perserikatan bangsa bangsa sehingga menekan deforestasi hutan di Papua lebih umumnya di Amazon dan Kongo. Selebihnya ajaran ajaran gereja pun menekankan bahwa bumi ini hanya kita pinjam pemiliknya adalah anak cucu kita di masa yang akan datang.
Daftar Tinjauan Pustaka:
Abdul-Matin Ibrahim 2010. Greendeen : Inspirasi Islam Dalam Menjaga Mengelola Alam. Jakarta. Zaman
Joga Nirwono. 2013. Gerakan Kota Hijau. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
https://www.globalforestwatch.org Diakses pada kamis 22 Juni 2026
https://www.interfaithrainforest.org Diakses pada kamis 22 Juni 2026
https://wmo-int.translate.google Diakses pada kamis 22 Juni 2026
https://www.cnbcindonesia.com/ Diakses pada kamis 22 Juni 2026
https://www.cnnindonesia.com Diakses pada kamis 22 Juni 2026


Post Comment
Post a Comment