BREAKING
Create your own banner at mybannermaker.com!

TULISAN TERBARU

Stop Kekerasan di Papua Barat

Saturday, December 20, 2025

Berjalan Kaki Melewati 1.600 KM Selama 6 Bulan Demi Menghindari Perang Di Intan Jaya

 

Direct by: Namukigiba Moses Douw

Cerita berlatar pada tahun 1961, ketika itu terjadi perebutan status kekuasan dan kedaulatan di negeri yang berkedudukan ras kulit hitam. Rumpun kulit hitam mempertahankan kemerdekaan yang telah mereka raih pada tahun tahun itu. Namun, perebutan kekuasaan itu di tandai dengan adanya perebutan gunung-gunung emas salah satunya gunung Mbula atau gunung B Wabu penyebutan gunung itu setelah 60 tahun kemudian. Dengan gelancarkan berbagai operasi-operasi militer di daerah tersebut. 

Sehingga sekitar pertengaan tahun itu pecah konflik Politik Ekonomi antara bangsa kulit hitam dengan kulit putih di New Guine Barat terlebih khusus di daerah Intan Jaya. Konflik Ekonomi Politik dialami seluruh Wilayah New Guinea Barat hingga setengah abat lebih. Salah-satunya desa kecil yang tenang di wilayah sekitar Gunung Emas Mbula yaitu, Mamba. Di desa itu ada tiga bersaudara bernama Jhonimala Maisini, Petrus Maisini dan Oktovina Maisini. Mereka tumbuh bersama penuh tawa dan kebersamaan khas anak-anak desa. Namun, kedamaian itu tak bertahan lama.

Sore itu Gunung Mbula selimuti awan hitam, hujan rintik dan angin ribut ketika Jhonimala Maisini dan Petrus Maisini tengah bermain permainan khas di daerah itu, sekelompok pasukan bersenjata tiba-tiba menyerang kampung Mamba. Serangan udara dengan BOM dan serangan darat mengunakan rentetan senjata jenis megazine, serangan itu begitu cepat, banyak warga sempat menyelamatkan diri. Dari seluruh penduduk desa Mamba, hanya enam anak yang berhasil bertahan hidup, yaitu Jhonimala Maisini, Petrus Maisini, Oktovina Maisini, Apolos Sani, George Bagau dan Bisai Migau

Saat kesempatan itu pula Jhonimala Maisini teringat pesan ayahnya, yang dulu menjadi kepala suku di wilayah Mamba, Intan Jaya. Sang ayah pernah berkata, "Jika perang datang, pergilah menuju tempat terbitnya Bintang Fajar di Timur matahari terbit.  Di sana, kau akan menemukan tanah yang aman, bernama Oksibil Pegunungan Bintang dan Tabubil Nugini Bagian Timur."

Berpegang pada pesan itu, Jhonimala Maisini memutuskan untuk memimpin teman-temannya menuju Oksop Pegunungan Bintang dan Tabubil Nugini bagian timur dengan harapan bisa menemukan keselamatan. Keesokan paginya, mereka memulai perjalanan panjang tanpa membawa bekal apapun. Mereka berjalan menyusuri Pegunungan gersan dan berbatuan. 

Siang hari, sepanjang perjalanan rasa lapar membuat mereka hampir menyerah, hingga mereka melihat seekor Anjing sedang memangsa kuskus. Mereka berusaha mengusir hewan itu dan memanfaatkan daging kuskus yang tersisa agar bisa bertahan hidup.

Hari demi hari berlalu, mereka terus berjalan melewati Pegunungan Cartenz hampir mendekati Pegunungan Mandala yang bebatuan tandus sejauh lebih dari 800 km. Tak ada makanan, tak ada air bersih, dan tubuh mereka makin lemah. Perjalanan mereka di temani nyamuk nakal, lintah, ular bisa dan pohon berduri yang menghisap darah mereka sebagai teman perjalanannya.

Hingga pada suatu siang yang terik, Apolos Sani tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan. Ia meninggal dunia karena kelaparan, kelelahan, kedinginan dan mengalami sakit malaria selama bermalam malam di Perbukitan Pegunungan Cartenz serta dehidrasi karena kedinginan. Dalam keputusan saat itu, Jhonimala mencoba mencari cara agar yang lain tetap hidup di Gunung yang ketinggian mencapai 4.760 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ia menjadikan Jamur dan sayur paku sebagai makanan menta dan membaginya dengan teman-temannya agar bisa bertahan sedikit lebih lama.

Setelah hampir tiga bulan berjalan kaki menyusuri Pegunungan Mandala, mereka akhirnya bertemu dengan sekelompok pengungsi lain dari Pengunungan Bintang yang juga mencoba melarikan diri dari perang wilayah tersebut. Kelompok Pengungsian tersebut berasal dari Kampung Oksop, Pegunungan Bintang. 

Salah satu dari mereka memberitahu bahwa perbatasan Tabubil Papua Nugini Bagian Timur sudah dijaga ketat oleh pasukan bersenjata, dan tak ada satupun pengungsi yang berhasil masuk kesana. Mendengar itu, Jhonimala dan kelompoknya memutuskan untuk mengubah arah perjalanan menuju Holandia kota tua di pulau tersebut, berharap masih ada kesempatan untuk menemukan tempat yang aman.

Di antara para pengungsi Oksop yang bertemu itu, dua anak yatim piatu bernama Jemi Oktemka dan Siorus Oktemka adiknya jemi, kemudian ikut bersama kelompok Jhonimala, mereka melanjutkan perjalanan. Lima bulan telah berlalu sejak mereka meninggalkan kampung halaman, dan kini kondisi para pengungsi sudah sangat memprihatinkan.

Melewati pegunungan yang kering dan begitu bebatuan, suatu hari ketika mereka menemukan sebuah sungai di tengah Pegunungan yaitu Sungai Mambramo Hulu tanpa berpikir panjang, mereka segera berlari ke Sungai. Minum sepuasnya dan mandi untuk membersihkan Kotoran serta keringat yang sudah membandel, menempel berbulan-bulan. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Saat berjalan di tepi sungai, Jhonimala melihat sesuatu yang membuatnya terdiam. Di tanah, ia menemukan sebuah peluru yang masih baru. Dari situ, ia sadar bahwa tempat itu mungkin tidak aman. Ia khawatir wilayah sekitar sungai masih berada di bawah pengawasan pasukan bersenjata karena tempat itu bertepatan dengan perbatasan Papua Nugini.

Menempuh jarak kurang lebih 900 KM, Jhonimala memutuskan dan memerintah adik-adiknya agar mereka segera menyeberangi Sungai Mambramo yang menempati predator buaya yang buas dan arusnya yang deras serta menjauh dari lokasi itu. Dugaan Jhonimala ternyata benar. Ketika mereka sedang mempersiapkan tali, suara tembakan dan pengeboman dari udara terdengar dari kejauhan. Serangan tersebut mengakibatkan anggota kelompoknya yang bernama George Bagau tertembak saat menyebrangi kali menggunakan tali, kemudian tak bisa diselamatkan karena arus kalinya yang deras.

Ternyata di tempat itu pula beberapa pengungsi yang berjalan lebih dulu menjadi korban, dan tubuh mereka di mutilasi serta terbawa arus sungai Mambramo. Mereka melarikan diri dari tempat itu dan berjalan melewati desa-desa yang telah hancur, seolah dunia di sekitar mereka sudah kehilangan kehidupan di Negara itu.

Di salah satu desa, mereka bertemu dengan seorang pria yang terluka parah. Dengan sisa napasnya, pria itu memberi tahu arah menuju Kota Tua Holandia tersebut lalu menghembuskan napas terakhirnya, tempat terakhir yang mungkin itu bisa memberi mereka keselamatan. 

Bermalam di sekitar pedesaan itu, pagi harinya, Petrus Maisini yang terbangun lebih dulu justru dikejutkan oleh kehadiran operasi kelompok bersenjata berkulit putih. Petrus menundukan kepala di alang alang dan Jhonimala Maisini kakanya yang mengaku dirinya dan angkat tangan hanya dirinya yang berada di kampung itu, sementara adik-adik rombongannya di sembunyikan. Lalu Ia menyerahkan diri untuk di tangkap.

Jhonimala Maisini benar-benar menjadi pahlawan bagi saudara-saudaranya. Jhonimala di tangkap oleh kelompok bersenjata kulit putih itu dan membawanya enta kemana? Ia rela berkorban demi mereka, agar semua bisa tetap hidup dan melanjutkan perjalanan.

Setelah kejadian itu, Petrus Maisini menggantikan Jhonimala untuk mempimpin perjalanan mereka untuk melanjutkan sisa perjalanannya. Petrus tidak bisa menahan tangisnya. Ia merasa sangat bersalah karena menganggap dirinya penyebab Jhonimala tertangkap tentara Kulit Putih. Oktovina Maisini yang melihat itu mencoba menenangkannya. 

Setelah perjalanan mereka melewati Pegunungan yang gersang, perjalanan mereka melewati hutan hujan terbesar di Wilayah itu, tidur dan bangun di hutan. Dalam perjalanan mereka sering juga terbebas dari ular ganas yang mematikan hanya dalam sekali gigitan. Mereka memanfaatkan gua pohon dan rumah buatan alang alang untuk bermalam hanya semalam. Makanpun memanfaatkan buah buahan dan binatang di sekitarannya. 

Beberapa waktu kemudian, kurang lebih menempuh 700 KM perjalanan mereka akhirnya tiba di kampung terakhir kota tua Holandia yaitu Geynem di tempat Pengungsian Intan Jaya dan Pegunungan Bintang. 

Perjalanan mereka telah melalui 1.600 KM dengan perjalanan awal Mamba Intan Jaya Menuju Geynem Hollandia. Di sana mereka disambut dengan tangan terbuka, diberikan makanan, pakaian, dan tempat untuk beristirahat. Sayangnya, sesampai di tempat pengungsian kondisi Siorus Oktemka yang sudah terlalu lemah dan menderita malaria ini tidak dapat tertolong. Ia meninggal di tempat pengungsian itu.

Dua Belas tahun berlalu di Geynem, waktu telah mengubah banyak hal. Petrus Maisini, Oktovina Maisini, Bisai Migau dan Jemi Oktemka kini tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat. Setelah itu, Petrus mengabdikan dirinya di pusat perawatan pengungsi, membantu para dokter merawat korban perang yang datang silih berganti. Sementara Bisai Migau memilih jalan hidupnya sendiri dan kini menjadi seorang pendeta di tempat pengungsian tersebut.

Konflik panjang di Intanjaya dan Oksop Pegunungan Bintang akhirnya menarik perhatian dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa kemudian mengambil langkah besar dengan memindahkan sekitar 1.500 pengungsi ke berbagai negara pada tahun 1994. Hari itu, nama Petrus Maisini, Oktovina Maisini, Bisai Migau dan Jemi Oktemka termasuk dalam daftar yang akan diberangkatkan ke Belanda. Kabar itu membawa kebahagiaan besar bagi mereka. Setelah bertahun-tahun hidup dalam penderitaan, kini ada harapan baru untuk memulai kehidupan yang lebih baik.

Sebelum keberangkatan, para pengungsi mendapat pelatihan mengenai cara hidup di Netherlands (Belanda), termasuk pemahaman bahwa mereka harus bekerja keras setelah tiba di sana sebagai bentuk tanggung jawab untuk mengganti biaya perjalanan yang telah difasilitasi oleh Perserikatan Bangsa Bangsa. Setelah semua persiapan selesai, mereka pun bersiap meninggalkan Holandia tempat pengungsian yang telah menjadi rumah bagi mereka selama 13 tahun.

Holandia musim hujan waktu itu, Gunung Cycloop menyelimuti Awan hitam melihat dari Bandara Sentani mendakan kesedihan kepergian sosok pengungsi dari tanah asalnya pada tahun 1994, pesawat yang membawa mereka pada akhirnya mendarat di Netherlands. Di bandara, rombongan mereka dijemput oleh petugas yang akan mengantar mereka menuju tempat tinggal baru. Pemerintah Netherlands menempatkan Petrus Maisini, Bisai Migau dan Jemi Oktemka di kota Denhaag, sementara Oktovina Maisini ditempatkan di Amsterdam Netherlands 

Petrus, Bisai dan Jemi awalnya merasa keberatan ketika mengetahui bahwa Oktovina tidak akan tinggal bersama mereka di kota yang sama. Mereka sudah melewati banyak kisah dan banyak hal bersamanya. Karena itu, mereka terus mencoba meminta kepada pihak imigrasi agar Oktovina pun bisa ditempatkan di Denhaag bersama mereka. Namun permintaan itu tidak bisa dikabulkan. Di Denhaag, tidak ada keluarga yang bersedia menampung pengungsi perempuan.

Setibanya di sana, mereka dijemput oleh seorang wanita bernama Virgina. Ia memperkenalkan diri sebagai orang yang akan membantu mereka mencari pekerjaan di Netherlands. Virgina menjelaskan bahwa tugasnya adalah membantu para pengungsi menyesuaikan diri dengan kehidupan baru sekaligus memastikan mereka bisa mandiri. Setelah perkenalan singkat, Virgina membawa mereka ke tempat tinggal baru yang sudah disiapkan.

Rombongan Petrus saat tiba di rumah, mereka disambut oleh seorang wanita bernama Lousia, seorang relawan yang bertugas mencarikan tempat tinggal bagi para pengungsi di Denhaag. Lousia menjelaskan bahwa rumah itu kini menjadi tempat mereka melalui hidup baru. Malam harinya, karena belum terbiasa tidur di ranjang, mereka memilih menggelar kasur di lantai dan tidur berdampingan seperti masa-masa solid dulu. Meski berada di tempat yang lebih nyaman, rasa canggung masih terasa. Seolah mereka belum sepenuhnya percaya bahwa kini hidupnya telah berubah.

Keesokan paginya, mereka berdiri di depan jendela menatap bangunan berlantai dan halaman rumah sambil menunggu kedatangan Virgina. Telepon rumah sebenarnya terus berdering karena Virgina mencoba menghubungi mereka, tapi karena mereka tidak mengerti cara mengangkatnya dan mengira suara itu hanyalah alarm sejenisnya. Akhirnya, karena telepon tak kunjung dijawab, Virgina datang langsung ke rumah.

Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah sebuah restoran kecil. Di sana, Virgina memperkenalkan mereka kepada pemilik restoran yang bernama Matius. Karena tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali Petrus, Bisai dan Jemi pun gagal diterima di tempat makan tersebut. Wawancara mereka berjalan buruk, membuat suasana menjadi canggung.

Melihat hal itu, Virgina tidak tinggal diam. Ia lalu membawa mereka ke rumah temannya yang bernama Lukas, seseorang yang berpengalaman dalam membantu para pendatang baru beradaptasi dengan dunia kerja. Di rumah Lukas, mereka diajari cara berbicara saat wawancara, bagaimana menjawab pertanyaan dengan percaya diri, dan cara bersikap agar terlihat meyakinkan di depan calon atasan. Selama beberapa hari mereka berlatih dengan tekun hingga akhirnya tiba waktu untuk mencoba lagi.

Beberapa hari kemudian, hasil dari latihan itu membuahkan hasil. Petrus dan Bisai berhasil diterima bekerja sebagai pelayan di sebuah toko swalayan, sementara Jemi mendapatkan pekerjaan di pabrik perakitan alat semprot. Keesokan harinya, Petrus yang merasa sangat berterima kasih memutuskan untuk menemui Virgina secara langsung. Dengan membawa petak ole-ole kecil di tangannya, ia berjalan menuju rumah Virgina dan mengucapkan terima kasih karena telah mencarikan pekerjaan yang akhirnya membuka jalan baru bagi hidup mereka.

Hari demi hari berlalu, dan Petrus akhirnya berhasil mewujudkan impian lamanya untuk bisa bersekolah di Netherlans. Namun, biaya pendidikan yang tinggi membuatnya harus mencari pekerjaan tambahan. Ia kemudian diterima bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan.

Sementara itu, di pabrik tempat Jemi bekerja, kemampuan dan ketekunannya membuatnya dikenal sebagai salah satu karyawan yang paling cepat dan terampil. Sayangnya, hal itu menimbulkan rasa iri di antara dua rekan kerjanya. Mereka merasa tersaingi dan suatu hari saat waktu istirahat tiba, mereka memberikan Jemi sesuatu yang berbahaya sepucuk batang Rokok Ganja. Tanpa berpikir panjang dan tanpa memahami risikonya, Jemi Oktemka mencoba dan sejak saat itu, ia mulai menyukainya.

Di sisi lain, Bisai Migau yang bekerja di toko swalayan mendapatkan tugas untuk membuang buah dan sayur yang sudah tidak layak jual. Namun, saat tiba di tempat pembuangan, ia melihat seorang wanita sedang mengumpulkan makanan di tempat sampah demi isi perut dari tumpukan sampah. Tanpa ragu, Bisai Migau memberikan makanan yang seharusnya dibuang itu kepada wanita tersebut. Sayangnya, tindakannya diketahui oleh atasannya. Sang atasan malah memarahinya dengan keras. Bisai Migau merasa kecewa dan memutuskan untuk berhenti bekerja.

Virgina yang mengetahui hal itu kemudian menanyakan alasannya. Bisai Migau menjawab bahwa dirinya tidak bisa bekerja di tempat yang menentang hati nuraninya. Namun, Virgina mencoba menjelaskan bahwa di Netherlands, uang adalah hal penting untuk bertahan hidup. Dan untuk mendapatkannya, seseorang harus bekerja apapun pekerjaannya.

Beberapa hari kemudian, Bisai Migau kembali mencari pekerjaan lain dan tanpa sengaja bertemu dengan Lukas. Melihat kesungguhan Bisai Migau, Lukas lalu membantunya mendapatkan pekerjaan di sebuah gereja. Di tempat baru itu, Bisai Migau merasa lebih tenang karena ia bisa bekerja sambil tetap menjalankan nilai-nilai yang ia pegang.

Malam harinya, ketika Petrus Maisini sedang mengerjakan tugas sekolahnya, Jemi Oktemka tiba-tiba pulang dalam keadaan yang tidak seperti biasanya. Matanya tampak merah dan perilakunya agak aneh. Melihat itu, Bisai bertanya tentang keadaannya. Namun Jemi Oktemka hanya menjawab dengan nada tinggi. Petrus yang khawatir mencoba mendekat untuk memeriksa, tetapi Jemi Oktemka menolak dan justru berbicara kasar, mengatakan bahwa Petrus Maisini bukanlah seorang dokter. Suasana pun menjadi tegang. Jemi Oktemka yang sedang emosi kemudian meninggalkan rumah begitu saja.

Ketika Virgina tiba, Petrus dan Bisai menceritakan semua yang terjadi, termasuk tentang sikap Jemi Oktemka yang akhir-akhir ini sering berubah dan mudah marah. Sementara itu, di tempat lain, Jemi yang sedang diliputi kemarahan berjalan tanpa arah di jalanan kota. Ia mencoba menelpon Oktovina Maisini menggunakan telepon umum, namun panggilannya tidak tersambung. Merasa frustrasi, ia menendang dan merusak telepon umum tersebut. 

Aksinya itu membuat polisi datang dan membawanya ke kantor Polisi untuk diperiksa. Tak lama kemudian, Virgina bersama Petrus dan Bisau datang ke kantor polisi untuk membantu mengeluarkan Jemi Oktemka. Setelah proses administrasi selesai, mereka berhasil membawanya pulang.

Masalah belum berakhir. Jemi Oktemka mulai berbicara dengan nada penyakitkan, mengatakan bahwa “seharusnya Petrus Maisini yang mati, bukan Jhonimala Maisini”. 

Ia tantang berbicara demikian karena mereka anggap Jhonimala telah meninggal di tembak tentara kulit putih. 

Ucapan itu membuat suasana menjadi sangat emosional. Petrus Maisini adik kandung Jhonimala Maisini yang sejak awal menahan diri akhirnya tidak mampu lagi mengendalikan amarahnya.


Setelah pertengkaran itu, Petrus Maisini diliputi rasa bersalah yang mendalam. Ia merasa telah menyebabkan kematian Jhonimala, sosok yang selama ini menjadi pahlawan dan pelindung bagi mereka semua. Melihat kondisi Petrus Maisini yang begitu terpukul, Lukas mengampirinya dan mengajaknya masuk ke rumah.

Lukas berkata, “Hidup adalah tentang pilihan, dan Jhonimala Maisini sudah memilih untuk membiarkan Petrus tetap hidup. Karena itu, tugas Petrus Maisini sekarang adalah melanjutkan hidupnya dengan baik dan tidak mengecewakan pengorbanan Jhonimala.”


Mendengar kata-kata itu, Petrus Maisini mulai tenang.

Beberapa waktu berlalu, setelah itu, Virgina mencari informasi tentang kondisi di Irian Barat sebelumnya New Guinea Barat melalui internet. Ia melihat banyak foto dan Video yang sangat menyedihkan dari warga sipil yang menderita akibat operasi militer berkepanjangan.

Keesokan harinya, Virgina pergi ke kantor imigrasi dan berbicara dengan resepsionis. Ia memohon agar Oktovina bisa dipindahkan ke Denhaag dari Amsterdam agar dapat berkumpul kembali dengan saudara-saudaranya.

Namun, resepsionis menjelaskan bahwa hal itu sulit dilakukan karena di Denhaag tidak ada keluarga yang bersedia menampung pengungsi perempuan. Sebagai solusi, ia menyarankan agar Virgina mencari keluarga yang mau menerima Oktovina Maisini agar proses pemindahannya bisa dilakukan.

Setelah keluar dari kantor imigrasi, Virgina segera menemui Lousia temanya dan memintanya membantu mencari cara agar Oktovina Maisini bisa dipindahkan ke Denhaag dari Amsterdam. Ia juga menjelaskan bahwa bila prosesnya berhasil, Oktovina Maisini akan tinggal di rumahnya sendiri. Lousia pun setujui permintaan itu.

Beberapa minggu kemudian, ketika Petrus Maisini, Bisau Migau, Jemi Oktemka dan Lousia tengah mempersiapkan pesta Natal, Virgina datang membawa sebuah kejutan besar. Ia membuka pintu dan memperlihatkan sosok yang sudah lama mereka rindukan, yaitu Oktovina Maisini dari Amsterdam.

Keesokan paginya, saat Petrus Maisini sedang mencuci pakaian, Oktovina Maisini menghampirinya dan bercerita bahwa ketika ia masih di Amsterdam, ia sempat menerima sebuah surat dari kamp pengungsian di Hollandia. Surat itu berisi kabar bahwa ada seorang pria yang datang ke kamp mencari mereka.

Mendengar hal itu, Petrus Maisini langsung yakin bahwa pria yang dimaksud adalah Jhonimala. Dia nekat Jhonimala masih hidup dan masih menjadi pengungsi Kamp Geynem tempat dimana mereka tinggal belasan tahun.

Siang harinya, Petrus Maisini pergi menemui resepsionis imigrasi bersama Virgina dan Lousia. Ia memohon dan menjelaskan kisah perjalanan mereka dari Mamba Intan Jaya kepada resepsionis agar Jhonimala bisa dipindahkan ke Netherlands dan berkumpul kembali dengan mereka.

Namun, resepsionis menjelaskan bahwa penerbangan dari kamp pengungsian Hollandia telah ditangguhkan untuk sementara karena situasi politik Irian Barat sebelumnya Nugini Barat sedang diawasi ketat dan negara tersebut diduga terjadi operasi militer yang sangat luar biasa dan berbahaya terhadap Perserikatan Bangsa Bangsa dan lembaga Independen lainya.

Setelah sekian lama menahan rindu, akhirnya Petrus Maisini memutuskan untuk pergi ke kamp pengungsian di Hollandia demi bertemu dengan Jhonimala, pria yang dulu pernah menyelamatkan hidupnya.

Sesampainya di sana, Petrus langsung menuju bagian administrasi dan mencoba mencari data pengungsi bernama Jhonimala Maisini. Namun hasilnya nihil. Nama itu tidak ditemukan di daftar manapun.

Tidak menyerah, Petrus Maisini berkeliling kamp di Geynem dan mulai bertanya kepada para pengungsi satu persatu. Dua hari penuh ia habiskan untuk mencari, tapi hasilnya tetap sama. Jhonimala tidak juga ditemukan.

Wajar saja, karena kamp pengungsian itu menampung lebih dari 60 ribu orang, akibat operasi militer di seluruh Tanah Irian Barat dan Petrus Maisini sendiri sudah lupa wajah Jhonimala Maisini yang terakhir kali ia lihat.

Ketika rasa putus asa mulai menghampiri, Petrus Maisini mencoba menenangkan diri dengan memainkan permainan khas masa kecilnya bersama Jhonimala Maisini kaka pertamanya. Dan di saat itulah, tanpa diduga, Jhonimala muncul di hadapannya. Keadaan berubah seketika air mata pun turun membasahi, menyembukan luka rindu yang kian lama terpendam tersebut itu. Hollandia yang kemarau saat itu, air mata kerinduhan hari itu mulai membanjiri matanya.

Tak ingin membuang waktu, Petrus Maisini pun berkata dengan penuh tangisan air mata kepada kaka tertuanya, “Saya akan pergi ke kantor kedutaan Netherlands di Hollandia untuk mengurus surat pindah, agar bisa memulai hidup baru di Netherlands”, yang saat itu tanah yang didambakan oleh para pengungsi Operasi Militer di Irian Barat.

Namun sebelum berangkat, Petrus Maisini memeriksa kondisi kesehatan Jhonimala terlebih dahulu. Petrus meminta bajunya segera dibuka. Saat Jhonimala membuka bajunya, Petrus terdiam kaget. Tubuh Jhonimala penuh luka di bagian punggung, bekas penderitaan panjang yang ia alami selama puluhan di pengungsian.

Namun sesampainya di sana, usahanya sia-sia. Surat izin kepindahan untuk Jhonimala Maisini tidak bisa diterbitkan.

Petrus Maisini tahu kabar itu akan menghancurkan harapan Jhonimala kaka penyelamatnya, jadi ia memilih untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Ia memutuskan berbohong dengan mengatakan bahwa, “permohonan surat pindah telah disetujui dan akan segera berangkat ke Netherlands”.

Keesokan harinya, mereka berdua menuju bandara. Di sana, Petrus Maisini akhirnya tak sanggup menahan rasa bersalahnya. Ia berkata jujur kepada Jhonimala bahwa, “surat izin itu gagal diterbitkan, dan satu-satunya cara agar Jhonimala bisa berangkat adalah dengan menggunakan identitasnya”.

Jhonimala menolak keras dan berkata, “Aku tak ingin merebut hidup orang lain.”

Namun, Petrus Maisini adik kandungnya mengingatkan, “Dulu kau pernah menyelamatkan hidupku tanpa pamrih, dan kini ini adalah saatnya aku membalas budi.”

Setelah perdebatan yang penuh emosi, Jhonimala akhirnya setuju dan menerima keputusan itu.

Dalam perjalanan, Petrus menelpon Virgina dan memintanya untuk menjemput Jhonimala di bandara. Sementara itu, Petrus Maisini tetap tinggal di pengungsian. Ia tahu bahwa tindakannya telah memberikan kesempatan bagi Jhonimala untuk hidup lebih baik. Dan bagi Petrus Maisini, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Kisah dan cerita pengunsian Intan Jaya pun selesai. Semoga dapat diambil pelajarannya, dan sampai jumpa di alur cerita seruh selanjutnya.


Tokoh Utama: Jhonimala Maisini, Petrus Maisini, Oktovina Maisini, Apolos Sani, George Bagau, Bisai Migau, Jemi Oktemka dan Siorus Oktemka. Direct by: Namukigiba Douw

Saturday, April 26, 2025

Ini Kisah Cerita Adik Kandung Paus Fransiskus: Maria Elena Bergoglio

 


Oleh: Moses Douw

Sang adik Maria Elena Bergoglio yang merupakan saudara terakhir dari lima bersaudara Bergoglio. Di antara mereka yang berduka atas meninggalnya Paus Fransiskus, tidak hanya sebagai Paus, tetapi juga sebagai salah satu anggota keluarga, adalah Maria Elena Bergoglio, satu-satunya dari lima bersaudara Jorge Mario Bergoglio (alm. Paus Fransiskus) yang masih hidup.
 
Maria Elena Bergoglio, lahir pada tanggal, 7 Februari 1948 dari pasangan Mario Bergoglio dan Regina Maria Sivori, ia adalah satu-satunya yang masih hidup dari lima bersaudara dan tumbuh di lingkungan Flores Buenoa Aires, dalam keluarga miskin "tetapi dengan nilai nilai katolik dan martabat yang tinggi.
 
Asal usul keluarganya yang berasal dari Italia Piedmont dari pihak ayahnya dan Liguria dari pihak ibunya. Namun demikian, Paus Fransiskus bangga menjadi orang Argentina dan bagian dari dunia, begitulah ia sering mendefinisikan negaranya. Saat ini banyak yang berduka atas kepergiannya, terutama saudara perempuannya tercinta, Maria Elena Bergoglia, yang tinggal di Buenos Aires. 
 


Maria Elena memberikan gambaran unik tentang Paus Fransiskus. “Jorge pandai memasak, ia membuat cumi-cumi isi yang lezat. Saat muda, ia suka melakukan apa saja yang disukai anak-anak: pergi ke bioskop, berdansa, pergi piknik, berkumpul dengan teman-teman. Tentu saja, ia tumbuh bersama kebaktian Katolik dan menghadiri kegiatan paroki. Maria pun bahagia, saat Jorge Mario Bergoglio (alm Paus Fransiskus) "bermain sepak bola dan menghadiri Aksi-aksi kebaktian Katolik". Dalam wawancaranya dengan beberapa Media Online Argentina dan italia. 
 
Maria juga mengenang kebaikan hati kakak laki-lakinya. Jorge (alm. Paus Fransiskus) sebenarnya telah mengambil alih peran sebagai orang tua baginya, setelah kematian mendadak ayahnya, karena serangan jantung, saat dia baru berusia 11 tahun. Peristiwa tragis itu membuat ikatan yang sangat kuat hingga saat ini menjadi lebih istimewa, dan tidak putus meskipun jarak fisik menjadi lebih jauh.
 
Sebagai saudara perempuannya, “dia selalu menyenangkan dan sangat selalu mendukung, sebagaimana layaknya seorang kakak laki-laki.” Hubungan antara mereka tidak pernah tegang meski jarak memisahkan mereka, ada komitmen Paus, dan ada masalah kesehatan pada keduanya. 
 
Dia tulus saat menelpon dan dia memulai pembicaraan dengan candaan. Jika perlu ia pun menantang adiknya Maria. "Dia tahu bagaimana membimbing dan menasihati adiknya."
 


Selama maria di timpa Stroke, Paus Fransiskus selalu menelepon ia hingga setiap hari sampai Maria Bergoglio benar benar pulih kembali, yang mana telah hidup dengan cacat serius sejak kejadian. Jadi, dia tidak pernah bisa bergabung dengan kakak laki-lakinya di Italia, tetapi mereka berbicara secara teratur. 
 
Saat ini Maria Elena Bergoglio masih tinggal di Argentina bersama putra-putranya José dan Jorge, yang terakhir menyandang nama Paus Fransiskus yang disebut Jorge. Selama Paus Fransiskus 12 tahun di Vatikan, kami tidak merasa begitu jauh karena ia adalah anggota keluarga yang selalu menelepon dan hadir.
 
Maria Elena Bergoglio bercerai dan menjadi ibu dari dua putra, Jorge (seperti saudara laki-lakinya Alm Paus Fransiskus) dan José Ignacio. Anaknya datang ke rumah ibunya untuk menyampaikan berita Kematian Paus Fransiskus tersebut. 
 
Setelah mendengar berita kematian saudaranya, ia berkata: "Cinta Jorge untuk dunia begitu besar. Ia memahami, bahkan sebagai Paus, bahwa kekuatan sejati adalah pelayanan. Ia selalu ada untuk orang lain. Mari kita berdoa untuknya sekali lagi." 
 
Maria Pernah Berdoa Agar Tidak Terpilih Sebagai Paus
 
Adik perempuan Paus pernah berdoa agar Paus tidak terpilih. Dalam wawancara tahun 2013 dengan CNN en Español, Fanpage it dan media lainya.  Maria mengungkapkan bahwa dia pernah berdoa agar Paus tidak dipilih lagi, karena dia tidak ingin Paus pergi.
 
Dalam kata-katanya: "Selama konklaf sebelumnya, saya berdoa agar dia tidak terpilih. Namun, hal ini tak terkabul bahwa " Saat itu, dia pikir itu adalah posisi yang agak kurang beretika dan akhirnya, dia berdoa agar Roh Kudus campur tangan dan mengabaikannya.
 
Hubungan Paus Fransiskus dengan Keluarganya di Argentina
 
Sepanjang masa Kepausan, keluarga telah menetapkan bahwa mereka selalu memelihara komunikasi konstan dengan para kolaborator dekatnya. Dengan cara ini mereka juga dapat mengetahui perkembangan terkini kondisi kesehatannya. 
 
Sang keponakan berkata: "Kami memiliki hubungan yang sangat dekat dan penuh perhatian." Ditambahkannya juga: "Selama 12 tahun Jorge di Vatikan, kami tidak terlalu merasakan jarak karena ia adalah anggota keluarga yang selalu menelepon dan hadir. 
 
Jorge (Alm. Paus Fransiskus) Mendukung Selama Perceraian Adiknya
 
Tentang masa lalu mereka, di daerah Flores, Buenos Aires, ia bercerita tentang masa-masa sulit tetapi juga tentang kekuatan jiwa yang luar biasa dari keluarga yang berasal dari Italia.
 
"Kami miskin, tetapi dengan penuh martabat, Selain Maria Elena Bergoglio mencakup tiga saudara kandung lainnya, Oscar Adrián, Marta Regina, dan Alberto Horacio, kemudian di tambah dengan alm. Paus Fransiskus berbagi kisah masa kecil yang sederhana, yang dicirikan oleh nilai-nilai yang kokoh dan iman Katolik yang kuat. 
 
Bahkan saat ia dewasa, ketika Maria Elena harus menghadapi perceraian dengan suaminya, kakak laki-lakinya tidak pernah berhenti mendukungnya: “Dia membantu Maria Elena  dan dia mendukungnya,
 
Bagaimana María Elena Bergoglio Mengetahui Kematian Paus Fransiskus
 
María Elena satu-satunya saudara perempuan Paus Fransiskus yang masih hidup. Pada hari Senin 21 April, semua orang mengetahui kematian Jorge Bergoglio. 
 
Menurut surat kabar Caracol Noticias dan di himpun dari berbagai media, serangkaian berita tiba di ponsel José Ignacio Bergoglio, salah satu putra María Elena. Sang keponakan mengatakan bahwa ia mengira suara itu adalah jam alarm.
 
Keponakan Paus Fransiskus ia mengumumkan kematian Paus kepada saudara perempuan María Elena Bergoglio. Berdasarkan himpunan dari berbagai media “Jose menelepon saudara laki-lakinya dan mereka pergi mengunjungi ibu untuk memberi tahu dia bahwa Paus Fransiskus telah meninggal."
 
José mengatakan kepada wartawan: "Meskipun sangat sedih kehilangan orang yang dicintai, kami mampu mendukungnya dan berada di sisinya." Ia kemudian menambahkan bahwa ibunya merasa pasrah mengetahui "bahwa saudaranya beristirahat dengan tenang dan tidak menderita." 
 
Wafatnya Paus Fransiskus terjadi sehari setelah Paus mengunjungi Lapangan Santo Petrus untuk memperingati Paskah. Bergoglio berbicara dan keluarganya berpikir seperti yang dikatakan keponakannya bahwa ia telah mengalahkan penyakit itu. 
 
Sebaliknya, beberapa jam setelah berita duka tersebut. Kemudian adiknya mengerti bahwa "dia mengucapkan selamat jalan kepadanya. Dan dia melepaskannya dengan menunjukkan kepadanya tanda-tanda terakhir cinta kasihnya. Cinta Jorge begitu besar dan aku akan membawanya kisah cerita ini hingga selamanya”.

Hak Pustaka: Di Himpun dari Media Online
www.legit.ng., www.ilriformista.it., www.repubblica.it., www.fanpage.it dan www.ncronline.org

Monday, February 17, 2025

Pemukulan Guru Tidak akan Menghianati Hasil


Oleh: Moses Douw

Saya Pernah di Pukul oleh GURU Hingga Bengkak dan Berdarah. Orang tua wali saya pernah mengaduh ke GURU namun, saya merasa bersalah menyesal atas Perbuatan saya. Jujur karena kepala Batu alias perilaku kasar sehingga saya sejak SD Berpindah pindah hingga dari kelas 3 Menetap  di Salah satu sekolah hingga tamat.


Mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah saya sering di pukul oleh guru enta itu, kesalahan saya kecil maupun yang besar. Pemukulan dari guru memang paling  menyakitkan hingga saya berdarah, bengkak dan hal itu yang tidak pernah lakukan oleh Orang Tua kandung saya, meskipun kita harus menerima dengan adil dan progresif.


Pemukulan Dari guru tidak akan ingkar hasilnya, cepat atau lambat siswa yang di pukul oleh guru pada saat Demontransi tersebut ia akan menggantikan Posisi Guru Victor Tebay bahkan bisa lebih dari Guru. Ingat itu!


Pemukulan guru Tua Victor Tebay terhadap siswa yang bukan muridnya di kelas dan sekolahnya tetapi sebagai guru wajar dan terhormat hanya saja kondisi dan waktu yang membuahkan Kritik. Kepolisian Resort Nabire menangkap secara paksa siswa yang mengaduh ketidaksesuaian program nasional untuk Orang Papua. 


Penangkapan yang di langsungkan Polres Nabire, memang tidak wajar sebab melakukan kekerasan selain itu menutup, mengalangi kecerdasan siswa dan membatasi ruang untuk menyampaikan aspirasi serta sangat militerisme terhadap Siswa yang sedang berkembang. Dalam sela-sela itu guru Tua Victor Tebay  melakukan tindakan pemukulan (enta itu dorongan dan atau tamparan) usai di undang Polres Nabire secara paksa. 


Berbeda guru yang memukul setelah motivasi dan guru yang memukul usai atau sedang memberikan motivasi kepada Siswa yang di tahan Polisi Indonesia di Polres Nabire Papua Tengah. Guru Victor Tebay memukul setelah atau sedang memberikan arahan, motivasi dan dukungan adalah hal wajar oleh guru meskipun itu di larang oleh peraturan.


Hal yang membuat tidak wajar adalah Polisi menangkap siswa dan memaksa VIKTOR TEBAY untuk memberikan arahan kepada Murid atau Anak anaknya di tahanan Polres Nabire. Polres Nabire adu domba orang yang tidak bersalah untuk memarahi, memotivasi, memberikan dorongan dan memukul.

Namun demikian, Victor Tebay hadir di Polres Nabire sebagai orang tua dan Guru untuk memotivasi dan membebaskan siswa dari cengkraman militer Indonesia, sehingga tidak sengaja lampiaskan pemukulan terhadap anak dan muridnya. Pada Intinya, pemukulan guru tidak ingkar hasil nantinya.


Tidak boleh sekolahkan anak ke sekolah,  bikin raport sendiri dan mengajar sendiri apabila tidak ingin anak di pintarkan, di pukul, di marah dan di bentak oleh gurunya. Tentunya dengan marahan, pukulan ujungnya ada emas. Di Ujung Rotan ada Emas. Nikmati hasil jerih paya dan semua pemukulan guru karena kerja keras dan orang sabar menjamin kesuksesan dan  tanpa guru kamu tidak memiliki kesempatan untuk sukses.

Wednesday, February 12, 2025

Pasukan Permenas Ferry Awom Sapu Rata Markas Arfai, Batalyon Kasuari

Oleh: Moses Douw


Pernah dengar Lagu dari  Black Brother group band asal Papua yang mengisahkan tentang peristiwa Arfai 1965 di Manokwari, Papua Barat. “Pada tahun 1965, 28 Juli markas Arfai di serang oleh laskar Papua. Kami tentara sapu rata batalyon Kasuari,”


Cerita tentang perlawanan yang pernah di buat orang asli Papua kepada Indonesia di Markas Arfai 28 Juli 1965. Paska PBB lakukan gencatan senjata dan tanggal 1 Mei 1963 PVK di bubarkan Indonesia, Markas Arfai yang dulu jadi markas PVK, di tempati TNI Yonif 641/ Cendrawasih I


Amiruddin al Rahab dalam artikelnya berjudul “Operasi-operasi militer di Papua pagar makan tanaman?” menyebutkan usai penyerangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) melancarkan operasi sadar di bawah komando Pangdam Brigjen R. Kartidjo untuk menghancurkan kelompok perlawanan.


Permenas Awom adalah bekas anggota Batalyon Papua. Dia komandan Papua PVK pada zaman Belanda. Dia dan kawan-kawannya berontak karena pasukan Indonesia yang datang membuat ketidaknyamanan bagi masyarakat. PVK atau Papoea Vrijwilligers Korps dibentuk pada 21 Februari 1961 untuk membantu mempertahankan koloni Nederlands Nieuw Guinea dari infiltrasi pasukan Indonesia.


Permenas Ferry Awom mantan anggota PVK bersama anak buahnya menyerang asrama Yonif 641/Tjendrawasih I di bukit Arfai. Akibatnya tiga orang anggota ABRI tewas. Kemudian pasukan PVK paska di bubarkan, dari mereka ada yang pilih gabung dengan Indonesia sehingga jadi TNI, dan ada sebagian anggota PVK tolak gabung dengan Indonesia.


Pasukan PVK yang tolak gabung dengan Indonesia bentuk sebuah kelompok Perlawanan yang sebut dengan nama Pasukan Kasuari. Pasukan kasuari di dirikan selain untuk lengkapi OPM yang telah terbentuk, juga untuk lakukan gerilya di seluruh daerah kepala burung ”Vogel Kop” Pulau Papua.


Untuk lakukan perlawanan pasukan kasuari bentuk 7 (tujuh) Batalyon yang di bantu beberapa Komandan Peleton. Batalyon Kasuari I di pimpin mantan PVK Sergean Ferry Awom, di mana beliau sekaligus merangkap Panglima Umum, dengan daerah operasi Manokwari Kota dan Menyambow.

Marthinus Jimmy Wambraw, Komandan Batalyon Kasuari II dengan daerah operasi Pesisir Pantai Utara yaitu; Saukorem, Arfu, Numbrani, Sidei,dan Nuni. Marthen Rumbiak, Komandan Batalyon Kasuari III dengan daerah operasi; Manokwari Timur, Ransiki, Windesi, Oransbari, dan Wasior.

Mantan Komandan  Polisi Papua, Yohanes Ciprini Jambuani sebagai Komandan Batalyon Kasuari IV, dengan daerah operasi; Warsnembri, Kebar, Saukorem dan Manokwari Kota. Mantan Sergean PVK, Silas Wompere, sebagai Komandan Batalyon Kasuari V, dengan daerah operasi di A3; Ayamaru, Aifat dan Aitinyo. Namun saat bergerilya, beliau di bunuh di daerah Ayamaru oleh komandan Peleton, anak buahnya sendiri; Martinus Prawar.   

Mantan Polisi Papua, Fred Ajoi adalah Komandan Batalyon Kasuari VI dengan daerah operasi Kebar, Merdei, Menyambow, dan Manokwari. Mantan Angkatan Laut Papua, Daniel Wanma, Komandan Batalyon Kasuari VII dengan daerah operasi Sausapor, Saukorem, Teminabuan, dan Sorong Kota.


OPM dan kelompok perlawanan di Markas Arfai dan di Seluruh tanah Papua di bentuk karena; (1) Netherland New Guinea Bukan bagian dari Netherland Hindia (2) Orang Papua Merasa Punya Kak Untuk Merdeka seperti bangsa lain di Muka Bumi, (2) New York Agrrement di Buat tanpa di ketahui Orang Papua, (3) Perubahan sistem Pleibesit dari One Man One Vote ke sistim Musyawarah Mufakat, (4) Setiap hari orang Papua di tangkap, di siksa, di bunuh saat lakukan protes terhadap situasi Politik yang terjadi saat itu. Atau, semua upaya damai yang di lakukan orang asli Papua di balas Indonesia dengan operasi militer dan kekerasan.


Inauri yang adalah seorang guru saat itu, mengatakan bila tentara Indonesia mendapati orang di jalan yang dinilai berperilaku aneh, maka mereka akan main pukul seenaknya, termasuk anak muridnya di sekolah. Permenas yang melihat keadaan tidak beres ini, bersama kawan-kawannya memukul tentara Indonesia yang bikin kacau. Bukan hanya baku pukul, baku tembak pun tak terelakkan. Situasi jadi ramai, masyarakat lari kocar-kacir. Permenas saat itu punya senjata yang selalu dibawa kemana-mana.


Sebelum terjadi serangan besar - besaran ke Markas Arfai, tentara OPM Batalion Kasuari IV di bawah pimpinan Johanes Cipri Jambuani lakukan serangan kepada TNI di Kebar tanggal 25 Juni 1965 sebagai upaya untuk tunjukan diri bahwa kami tidak mau bergabung dengan Indonesia dan PBB dan UNTEA bisa lihat tindakan dan sikap orang Papua itu.


Serangan yang di pimpin Yohanes Cipri Jambuani bersama suku Ayamaru dan suku Karun di Kebar ini di lakukan pagi hari saat aparat Pemerintah dan TNI/ Polisi lakukan upacara bendera pukul, 09,00. Dalam serangan ini 3 (tiga) orang anggota TNI mati terbunuh dan OPM berhasil rampas 4 (empat) pucuk senjata  otomat, 1 pucuk senjata M1 Garand,  3 senapan Mouser serta sepucuk senjata laras ganda.


Setelah di lakukan penyerangan di daerah Kebar dan Ransiki oleh Batalion Kasuari III di bawah pimpinan Marthen Rumbiak, Ferry Permenas Awom buat rencana untuk serang Markas Arfay yang saat itu di tempati oleh TNI Yonif 641/Cendrawasih I.


Penyerangan Markas Arfay Manokwari oleh tentara OPM terjadi pada 28 Juli 1965, mulai pukul, 10 malam hingga pukul 09,00 pagi hari. Perlawanan ini di pimpin langsung Panglima Umum Pasukan Kasuari Sergen Fery Permenas Awom. Dalam lancarkan perlawanan ini, salah satu anak buah Fery Permenas Awom yang juga bekas anggota PVK, kawal Awom masuk dalam Asrama Cenderawasih untuk cari senjata di gudang. 


Masuk sampai di dalam Markas Arfai, apa yang di cari tidak di temukan karena semua senjata telah di sita pimpinan. Awalnya sebelum masuk dalam Markas Arfai, karena di pos ada TNI yang jaga, Awom masuk dan tembak tentara di pos penjagaan tersebut lalu masuk dalam Asrama Cenderawasih. 


Lihat Awom tembak TNI di pos penjagaan, Aiwor, pengawal Awom, prajurit yang sebelumnya di latih tentara sekutu lakukan penyerangan dari depan untuk tarik perhatian TNI yang ada di dalam Asrama. Kemudian, salah satu prajurit OPM, Yulius Inaury bersama empat kepala suku yang ikut gabung, serang dari bagian belakang Asrama Arfay dan sebagian sergap dari samping Asrama.


Perang di tempat ini berlangsung 24 jam, mulai dari jam 10 malam hingga pukul 09 pagi hari, lalu OPM Batalion Kausari undur diri kehutan karena senjata dan amunisi yang terbatas. Pada penyerangan ini, banyak tentara Indonesia yang di laporkan tewas terbunuh dan perang ini di catat UNTEA secara  resmi yang di akui karena perang ini terjadi di depan mereka dan ada orang Papua yang ingin merdeka.

Menurut Julius Inaury, salah satu prajurit OPM yang ikut dalam penyerangan pada tempat ini katakan; “Kami sudah masuk ke Asrama Cenderawasih dari jam sepuluh malam. Masing - masing anggota pasukan di beri tugas jaga dan serang satu barak,” tutur mantan guru SD di YPK Manokwari ini.

Namun penyerangan di tempat ini jalan tidak sesuai rencara dan strategi yang di atur, karena anak buah Fery Permenas Awom sebelum di perintah untuk serang, mereka sudah masuk dalam Asrama penjaga sudah berteriak; “Ada Gerombolan” masuk. 


Mendengar teriakan itu, satu tentara terbangun dari tidur dan dengan senjata di gantung ke belakang sedang berjalan ke arah pasukan Awom yang berasal dari Ansus Serui. Pasukan Awom yang berasal dari Serui ini potong tentara itu. 


Kontak senjata di tempat ini berlangsung hingga tengah malam dan masih berlanjut hingga jelang pagi hari. Hingga pagi, pasukan Kasuari masih berada di dalam Asrama sedangkan tim yang berjaga - jaga di luar terus lakukan serangan sambil tunggu lain yang masih di dalam Asrama untuk keluar semua. 


Penyerangan dari bagian belakang dan samping di lakukan untuk lindungi pasukan yang masih berada di dalam Asrama Arfai. Mereka tidak pakai senjata modern saat itu, hanya Mouser satu, yang lain pakai senjata-senjata jaman dulu yang tembakanya hanya bisa satu-satu peninggalan Belanda dan Jepang. 


Aiwor yang sebelumnya di tugaskan jaga bagian samping untuk lindungi Awom, bergerak ke depan dan di bagian belakang beberapa pasukan. Penyerangan belum selesai tetapi, ada sebagaian undurkan diri dari medan pertempuran karena kehabisan peluru. 


Hingga jam 8 pagi, Awom belum juga keluar dari Asrama Cenderawasih Arfai. Sekitar 30 menit tunggu, Awom akhirnya keluar dalam keadaan sudah di tembak dengan senjata mesin di bagian kaki saat dia menuju pagar kawat duri. 


Awom langsung koprol ke dalam tempat timnya berjaga, sayangnya Awom terlambat salto karena semen tara kakinya masih di udara peluru berikut dari pihak lawan mengenai kakinya, namun dia beruntung karena peluruh yang masuk tidak mengenai tulang, namun celana yang dikenakan Awom sudah kembung karena penuh dengan darah serta berjalan tertatih – tatih. 


Melihat itu, Marthin Prawar membantu dia. Mereka bawah Ferry Awom ke suatu tempat yang aman di hutan untuk  berlindung lalu perintahkan beberapa orang Arfak pergi ke Warmare, jemput seorang mantri bermarga Saway, orang Inanwatan, Teminabuan Sorong Selatan untuk datang bantu Awom. 


Mantri itu pun datang dengan bawah berbagai obat lalu obati luka tembakan pada tubuh Ferry Awom dan beberapa anggota pasukan Kasuari yang tertembak saat itu. 


Dalam serangan di Markas Arfai ini, banyak TNI jadi korban dan pasukan kasuari ambil 1 pucuk senjata mesin regu brend kaliber, 7,7 mm dan sepucuk senjata otomatik, 2 buah sten.


Saat Acub Zainal menjadi Pangdam setelah Pepera 1969 menggantikan Brigjen Sarwo Edi, barulah Ferry Awom dan kawan-kawan menyerah di lapangan Bourasi Manokwari. Brigjen TNI  Acub Zainal Pangdam XVII/Cenderawasih periode 1970-1973 menerima mereka, namun hingga kini tak tahu di mana pusaranya.

 


 Berikut Video Link Perjuangan Papua (1965-1970): https://youtu.be/jNHmEm6_XzQ?si=bq3Plf2Vg4Duvgak

 

Thursday, November 7, 2024

Baltasar Engonga, Tiduri 400 Lebih Wanita di Guinea Equatorial Afrika


Oleh: Moses Douw

Baltasar Engonga adalah pejabat Equatorial Guinea yang terpopuler setelah diketahui kasus seksual dengan sejumlah wanita hingga istri pejabat tinggi. Ia terlibat dalam kasus dugaan video skandal dengan anak sekolah, staf kantor serta istri istri Pejabat dan Istri adik laki lakinya. Dia juga sebagai direktur Keuangan di Guinea Ekuatorial Afrika.

Ia juga merupakan kerabat dekat dengan Presiden Guinea Teodoro Mbasogo dan politikus teropuler di wilayah Guinea. Sementara itu, pejabat ini juga yang mempekerjakan ratusan orang sebagai staf di kantor dan beberapa perusahan miliknya.

Ia terpopuler di manca Negara dan di Afrika dengan adanya penemuan video skandal dirinya yang disimpan dengan jumlah melebihi ratusan, yang beraksi dengan wanita-wanita di kantornya terutama Pegawai Negeri Sipil yang statusnya bersuami. Video aksi tersebut mulai di sebarkan di Seluruh media Platform.

Pada rangkaian pencapaian dalam video skandal dari Baltasar juga mendapat mangsa seperti yang di ketahui hingga sekarang yakni: istri Direktur Keagamaan Presiden, Istri Jaksa Agung, Putri Dirjen Polisi,Istri dari banyak menteri termasuk Menteri Oburu, istri adik laki laki, istri Paman yang sedang Hamil dan banyak wanita ternama di Negara lainya.

Kepolisian Negara Guinea pada awalnya menggrebek kantor hingga menemukan 400 lebih video Sex dengan 400 lebih gadis gadis tersebut di Komputer, hardisk, Flash disk dan Handphone. Kemudian video video tersebut di sebarkan melalui media Sosial. Ia ditahan di Penjara oleh Kepolisian Guinea dengan kasus Korupsinya bukan dengan tindakan asusila tersebut.

Warga Afrika di kagetkan dengan perlakuan kepolisian karena hingga kini belum periksa terkait kasus video tersebut dengan beralasan berdasarkan laporan Tindakan perbuatannya terhadap wanita wanita tersebut bukan karena pemaksaan melainkan atas dasar suka sama suka.

Organisasi Perempuan Afrika turut menyuarakan, tindakan Baltasar itu dinilai bentuk penyebaran penyakit menular seksual sebab Ia diketahui menderita IMS, sehingga perbuatanya akan di tanggungjawabkan dan akan dituntut atas pelanggaran terhadap kesehatan masyarakat.

Perempuan seringkali menjadi korban pelecehan seksual namun di negara ini banyak wanita memilih untuk tidak bersuara karena takut kehilangan pekerjaan, sehingga pelanggaran asusila tersebut harus di bongkar agar kedok pelecehaan seksual di Negara Equador Guinea terbuka dan di ketahui Publik.

Di pihak Baltasar menolak tudingan video seksual yang di grebek polisi karena hingga saat ini menjadi terpopuler namun misteri. Pihaknya membantah hal tersebut karena video video yang tersebar tersebut adalah editan AI. Baltasar juga bantah bahwa video video tersebut adalah hasil editan orang orang yang tidak bertanggungjawab dan hasil editan AI oleh musuh-musuhnya.

Para suami suami dan Masyarakat di Guinea berpendapat bahwa tindakan ini akan di buktikan oleh wanita wanita yang terindikasi dalam video tersebut. Tentunya belum ada wanita yang mengaku atas perbuatannya.

Apabila terindikasi dan di percaya akan mengejutkan dan menunjukan bahwa wanita mungkin lebih banyak berselingkuh dari pada pria. Dapat kita bayangkan satu pria untuk 400 wanita. Disisi lain, dalam kasus ini mengingatkan warga Afrika terkait perlakuan yang sama dari orang kulit putih terhadap pekerja pekerja dan gadis gadis Afrika.

Thursday, October 24, 2024

Praktek Neo-Kolonialisme: Prabowo Canangkan Transmigrasi Ke Papua, Rampas HAM Orang Asli Papua



Oleh: Namukigiba Douw

Peran penting Negara Kesatuan Republik Indonesia berusaha untuk tetap mempengaruhi dan menguasai segala aspek kehidupan berbangsa, masyarakat dan memperteguh propinsi-propinsi di Pulau Papua terlebih khusus DOB (daerah otonomi baru) dengan memunculkan penjajahan gaya baru atau yang lebih dikenal dengan sebutan neo-kolonialisme.

Dapat kita pelajari bahwa masa kolonialisme lebih keras yang dirasakan masyarakat pada zaman kerja paksa atau abad abad sebelum abad 20 ketimbang zaman Neo-kolonialisme sehingga pada masa masyarakat modern sekarang ini sedang merasakan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa di Indonesia.

Neo-kolonialisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti kolonialisme dengan cara baru, misalnya penjajahan secara ekonomi, atau budaya. Praktik neo-kolonialisme secara harfiah didefinisikan sebagai neo (baru), kolonial (penjajah), isme (paham). Secara umum, neo-kolonialisme berarti sistem penjajahan bentuk baru.

Sedangkan, menurut Sarrtre Neo-kolonialisme merupakan praktik kapitalisme, dan ‘pasukan kultural’ untuk mengontrol sebuah negara dan bangsa sebagai bentuk kontrol Politik Ekonomi dan Militer secara langsung dan berlebihan namun terstruktur. Kontrol tersebut bisa saja berupa ekonomi, politik, bahasa, budaya, birokrasi pemerintahan, dan lainya. Bertujuan untuk mempengaruhi atau merubah tatanan agar lebih efektif dalam menguasai.

Kini neo-kolonialisme di praktekan oleh Presiden Prabowo (Presiden Terpilih Indonesia yang Ke-8) masih menanamkan hegemoninya melalui berbagai sektor. Tentunya, dapat ditunjukkan dengan adanya kebijakan-kebijakan yang sangat meresahkan dan merampas HAM Orang Asli Papua, salah satunya adalah mobilisasi / transmigrasi Non-Papua dan penggarapan pertanian multi-nasional secara besar besaran.

Fungsi kontrol hegemoni pada awal kepemimpinan Prabowo Gibran merujuk pada kondisi di mana sebuah kelompok oligiarki dan kapitalis, memegang kekuasaan. Namun, kekuasaan ini tidak menggunakan kekerasan fisik melalui militerisme secara represif, melainkan dengan menggunakan kontrol hegemoni yang dimiliki oleh kelompok kelompok tersebut.

Daerah Otonomi Baru tersebut meskipun memiliki wewenang tersendiri berdasarkan undang undang otonomi khusus No 6 Tahun 2001 untuk Tanah Papua dengan membendung ke khususan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat pribumi namun praktek neo-kolonialisme terus digencangkan dengan kontrol hegemoninya tentunya untuk merampas HAM orang Asli Papua demi kepentingan kelompok tertentu.

Mempraktekan Neo-klonialisme di Tanah Papua, negara berupaya memaksimalkan beberapa agenda utama yakni membentuk ketergantungan kepada negara, pencanangan transmigrasi ke Papua, Pemekaran Daerah Otonimi Baru (DOB) dan pencanagan eksploitasi hutan serta pertanian Multi Nasional. Pencanangan transmigrasi dan pertanian adalah misi Utama Prabowo-Gibran pada awal kepemimpinan.

Transmigrasi dan Perusahan Pertanian Multi Nasional

Transmigrasi adalah program kependudukan di lndonesia yang lama sudah berlangsung perkiraan di mulai pada pemerintahan Belanda pada tahun 1905 atau kemudian disebut dengan Kolonisasi. Dengan sasaran utama Transmigrasi adalah mengurangi kepadatan penduduk di Pulau Jawa, juga untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di daerah-daerah luar Jawa. Setelah kemerdekaan, tujuan transmigrasi adalah meningkatkan keamanan, kesejahteraan rakyat, serta mempererat rasa persatuan dan kesatuan bangsa.

Pada era Prabowo-Gibran, transmigrasi masih menjadi salah satu program utama namun penyelenggaraan transmigrasi dihadapkan pada tantangan berupa penerapan asas desentralisasi atau lebih khusus di Papua akan di harapkan dengan Otonomi Khusus untuk Tanah Papua. Sehingga dalam penyelenggarann transmigrasi juga mengharuskan dapat di sesuaikan dengan karasteristik dan kondisi daerah.

Untuk menunjang program transmigrasi Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mendukung pertanian berskala Nasional. Hal itu di tandai dengan adanya perintah tentang perwujudan mandat Presiden RI Prabowo Subianto untuk mencangkan program nasional Swasembada Pangan. Program tersebut di dukung juga oleh partai partai koalisi lainya dalam memenangkan pemilihan Presiden. Salah satunya ketua Partai Amanat Nasional (PAN) dengan menyatakan mendukung penuh terhadap program tersebut dengan menghandalkan proyek lumbung pangan yang kemudian di sebut dengan food estate dan memberikan gagasan untuk garapan perkebunan baru.

Program transmigrasi dan penggarapan 3 komoditi (Padi, Jagung dan Tebu) pangan di Papua adalah bentuk penjajahan (Neo-Kolonialisme) yang sedang di langsungkan oleh negara ( kekuasaan Prabowo Gibran ) untuk Tanah dan Manusia Papua. Program ini sangat jelas mengkolonikan manusia dan tanah Papua.

Perampasan HAK ASASI MANUSIA Orang Asli Papua

Hak orang asli Papua dalam undang-undang otonomi khusus antara lain meningkatkan taraf hidup masyarakat OAP, kemudian mewujudkan pemerataan pembangunan, pemenuhan hak-hak masyarakat Papua, hingga membentuk tata kelola pemerintahan daerah yang baik.

Hak hak dalam undang-undang otsus pun menjadi kompetensi yang harus di perjuangkan lagi oleh orang Papua dalam mempertahankan hak sulungnya, meskpun itu telah di renggut oleh kepemimpinan oligiarki atau pada masa kepemimpinan Prabowo Gibran mencanangkan program Transmigrasi.

Pola transmigrasi yang dicanangkan, tetap memicu timbulnya pengaruh-pengaruh terhadap daerah transmigrsi di Papua dan Orang Asli Papua. Pengaruh tersebut bisa berupa pengaruh baik maupun pengaruh buruk bagi masyarakat asli dan pendatang yakni: 1. Berkurangnya kesempatan kerja bagi masyarakat Orang Asli Papua, 2. Benturan budaya antara masyarakat asli dan pendatang, 3. konflik yang terjadi atas hak kepemilikan lahan. Hal tersebut tidak hanya dirasakan dalam bidang ekonomi, namun juga dibidang politik.

Transmigrasi di daerah pertanian 3 Komoditi (padi, tebu dan jagung) pun memunculkan multi persoalan. Persoalan utama adalah merampas Hak Orang Asli Papua. Hak-hak tersebut itu berupa hak kepemilihan tanah adat atau tanah marga, hak untuk menjadi pegawai, hak untuk maju bupati dan wakil bupati serta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), intervensi pendatang dalam pasar orang asli Papua, hak untuk menduduki jabatan dalam pemerintahan, hak untuk bekerja diperusahan milik Negara (BUMN), perusahan pertanian nasional, hak untuk menyampaikan pendapat (demokrasi) dan hak sulung Orang Asli Papua lainya.

Berbicara tentang persoalan Hak Asasi Manusia kaitan erat dengan pejuang kemanusian dan pejuang atas ketidakadilan negara terhadap masyarakat tentunya perampasan, penguasaan dan peningkatan sumber daya yang di miliki daerah tententu. Pejuang Hak Orang Asli Papua dijadikan sebagai kandidat utama menjalankan misi Kabinet Prabowo Gibran pada pengisian dan pergantian sususan garda terdepan Indonesia dalam pembangunan Bangsa.


Kementerian Hak Asasi Manusia dan Program Prabowo - Gibran

Hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta. Oleh karenanya tidak ada kekuasaan apapun di dunia yang dapat mencabutnya. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis. Seindahnya, hak atas tanah Papua adalah warisan nenek moyangnya secara otomatis turun temurun.

Pada dasarnya, hakikat Hak Asasi Manusia merupakan upaya menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara kepentingan kepentingan umun telebih khusus untuk persoalan persoalan Papua. Begitu juga upaya menghormati, melindungi, dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia menjadi kewajiban dan tangung jawab bersama antara masyarakat, pemerintah (Aparatur Pemerintahan baik sipil maupun militer), dan negara.

Hak hak dasar orang Papua sebagaimana disumpulkan adalah hak masyarakat, hak aparatur OAP dan pemerintah dalam membentuk kebijakan kebijakan yang memproteksi penyebab terjadinya konflik dalam hak asasi manusia di Papua. Hak hak tersebut akan direbut dengan adanya program-program Nasional pada masa kepemimpinan Prabowo Gibran yakni transmigrasi dan pertanian 3 komoditi (jagung, padi dan tebu) bertaraf nasional yang sedang berlangsung.

Ditengah mengadapi persoalan perampasan hak hak sulung orang asli Papua, negara melalui kepemimpinan Prabowo Gibran telah membentuk kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) dengan menempatkan Aktivis HAM Natalius Pigai, S.IP menjadi Menteri Hak Asasi Manusia, sementara program transmigrasi ke Tanah Papua dan megaproyek pertanian tersebut sedang berjalan, tentunya tamparan keras bagi aktivis HAM dan bagi Orang Asli Papua untuk mempertahankan hak haknya dari perebutan secara halus (Neo-klonialisme) oleh masa kepemimpinan Prabowo Gibran.

Kekuasaan Prabowo dan Gibran sekarang ini, menunjukan hegemoni akan kekuasaan atas sebuah bangsa tertentu dengan memanfaatkan kekuatan dan kontrol politiknya sebagai kepemimpinan untuk pencapaian program program tertentu. Dalam konteks politik Papua Prabowo Gibran memanfaatkan sejumlah Orang Papua demi pertarungan hegemoninya.

Prabowo-Gibran pada awal kepemimpinan mempraktekan Kontrol Hegemoni kekuasan dan Neo-Kolonialisme (penjajahan secara halus dan tidak menggunakan kekuatan Negara) dengan upaya meminimalisir aktivis HAM di Papua untuk merampas hak hak  orang Papua dengan melancarkan program program yang tidak menguntungkan orang asli Papua sebaliknya program program Nasional itulah dalang Pemusnahan Etnis Papua dan dalang merampas hak hak dasar (HAM) Orang Papua. 



Daftar Pustaka

Neokolonialisme, diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Nezar Patria dan Andi Arief (2003) Antonio Gramsci Negara & Hegemoni, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Paul sarte, Jean, (2001) Colonialism and Neocolonialism,Taylor & Francis. London Press

Sunday, April 7, 2024

Perubahan UU Desa, Jabatan Kepala Desa 8 Tahun: Ini Poin Poin Penting Yang Harus di Pahami!


Oleh: Moses Douw


Pendahuluan 

    Berdasarkan history munculnya undang undang No 06 Tahun 2014 tentang desa pada dasarnya merupakan Rancangan undang uandang yang muncul secajak tahun 2012. RUU ini merupakan usulan Pemerintah yang diajukan pada tahun  2012. Pengaturan dan kebijakan tata pengelolaan kewarganegaraan pemerintah desa dan pemerintah daerah meskipun sebelumnya masalah Desa telah diatur dalam Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, terlebih khusus di dalam Bab XI. 

    Namun, kemudian rancangan undang undang tentang desa tersebut disahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 15 Januari 2014. UU tersebut mengatur tentang penyelenggaraan Pemerintah Desa, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan mesyarakat, Hak dan Kewajiban Desa dan Masyarakat Desa, Peraturan Desa, Keuangan Desa dan Aset Desa, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, UU ini juga mengatur dengan ketentuan khusus yang hanya untuk Desa Adat.

    Undang undang Desa No 06 Tahun 2014 tersebut mengalami perubahan yang kedua dengan berinisiatif DPR, dengan terlaksananya rancangan perubahan  UU Desa tersebut, beberapa point point penting pada pasal pasal lain juga mengalami perubahan, diantaranya sebagai berikut: soal dana desa dan lainya. Kemudian  sudah di sepakati bahwa dana desa 15 persen dari dana transfer daerah dan Anggaran akan langsung ditransfer langsung ke rekening Desa.

    Pada 11 Juli 2023 DPR menggelar rapat paripurna untuk Perubahan RUU Desa, dari Masa Jabatan hingga Tunjangan Kepala Desa dan DPR telah mengesahkan RUU tentang Perubahan Kedua atas UU No. 6/2014 tentang Desa (RUU Desa) menjadi RUU inisiatif  DPR melalui siding tersebut. Setidaknya, ada beberapa perubahan penting dalam draf RUU Desa.

    Beberapa pokok perubahan dalam pengesahan rancangan Undang undang (RUU) Desa menjadi UU Desa Perubahan kedua yang telah di sahkan oleh DPR pada 28 Maret 2024 setidaknya 26 butir pasal, mulai dari Ketentuan Pasal 2 penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat, sampai dengan Ketentuan Pasal 118 tentang pengaturan kepala desa, BPD dan perangkat desa.

    Dalam amandemen inisiatif DPR Undang Undang desa No. 06/2014 tersebut Ada beberapa Poin poin penting yang perlu di pahami oleh masyarakat, pegawai dan perangkat desa di Seluruh Indonesia Khususnya di Papua.




Point Point Penting Amandemen UU Desa


1. Masa jabatan kepala desa menjadi 8 tahun dan dapat di pilih maksimal dua kali masa jabatan, Khususnya 

  • Kepala desa dan BPD yang menjabat 6 Tahun masih dapat mencalonkan diri 1 periode lagi
  • Untuk kepala desa yang sementara menjabat periode ketiga maka menyelesaikan masa jabatannya sesuai UU No/6 2014
  • Untuk Kepala Desa dan BPD yang terpilih tetapi belum pelantikan maka masa jabatan menyesuaikan dengan UU No./2014 Hasil amandemen 
  • Kepala desa yang berakhir masa jabatan pebruari 2024 dapat di perpanjang sesuai ketentuan UU No/6 / 2014
  • Kepala Desa yang masih menjabat saat ini akan medapatkan penyesuaian masa jabatan sesuai dengan Reisi UU No 6/2014

2. Kepala desa dan BPD mendapatkan hak pengasilan tetap setiap bulan, tunjangan, jaminan social, kesehatan dan tenaga kerja.

  • Pemberian tunjangan purna tugas satu kali di akhir masa jabatan Kades, BPD Dan Perangkat Desa sesuai Kemampuan desa.
  • Perangkat desa mendapatkan hak pengasilan tetap setiap bulan, tunjangan, jaminan sosial, kesehatan dan tenaga kerja.

3. Adanya persyaratan jumlah calon kades dalam pemilihan Kepala desa dan atau kepala desa dapat dipilih melalui musyawarah mufakat bilamana hanya ada calon Tunggal. 

  • Calon Kepala Desa paling sedikit berjumlah 2 (dua) orang.
  • Dalam hal jumlah calon Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi dan hanya terdapat 1 (satu) calon Kepala Desa terdaftar, Panitia Pemilihan Kepala Desa memperpanjang masa pendaftaran calon Kepala Desa selama 15 (lima belas) hari.
  • Dalam hal tidak bertambahnya calon Kepala Desa terdaftar setelah perpanjangan masa pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berakhir, Panitia Pemilihan Kepala Desa memperpanjang kembali masa pendaftaran selama 10 (sepuluh) hari berikutnya.
  • Dalam hal perpanjangan kembali masa pendaftaran calon Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berakhir dan hanya terdapat 1 (satu) calon Kepala Desa terdaftar, Panitia Pemilihan Kepala Desa bersama-sama dengan Badan Permusyawaratan Desa menetapkan calon Kepala Desa terdaftar secara musyawarah untuk mufakat.
  • Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemilihan 1 (satu) calon diatur dengan Peraturan Pemerintah.

4. Pemberian dana Konservasi dan atau dana rehabilitasi untuk desa

  • Desa yang berada di kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, hutan produksi, dan kebun produksi berhak mendapatkan dana konservasi dan/atau dana rehabilitasi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  • Ketentuan mengenai dana konservasi dan/atau dana rehabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

5. Pendapatan Desa yang bersumber dari APBN dan siltap langsung masuk rekening desa.

  • Pendapatan asli Desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong-royong, dan lain-lain pendapatan asli Desa;
  • Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
  • Bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah Kabupaten/Kota;
  • Alokasi dana Desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota;
  • Bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota;
  • Hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga; dan
  • Lain-lain pendapatan Desa yang sah.

        Oleh sebab itu, dari 26 perubahan terdapat beberapa hal krusial,  perubahan ini merujuk pada tingkat pengelolaan perangkat desa, keuangan desa dan aset desa. Hal tersebut dengan adanya perubahan pada sistem persyaratan pada pencalonan kepala desa, sistem pengelolaan pada dana desa dan aset desa. Hakikatnya perubahan atas undang undang desa No 6/2014 adalah bentuk perumusan, pencapaian dan percepatan pembangunan pemberdayaan dan pengadminitrasian desa.

Thursday, October 19, 2023

Yuwo dan Kingmi di Meepago Papua

 


Oleh: Yanpit Kotouki

Tulisan ini agak panjang. Tapi saya harap luangkan waktu sedikit untuk membacanya sampai selesai. Lebih khusus, tulisan ini memang dialamatkan untuk umat Kingmi:

Ada sebuah acara meriah dulu. Acara yg dilakukan Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua, khusunya Wilayah Meepago (apabila tidak salah), yaitu acara Pesta Kingmi, atau yang biasa disebut pasar Kingmi. Acara ini, sejak saya kecil dulu di Deiyai, Wakeitei, diadakan, kalau tidak salah setiap tahun--pra perayaan HUT Kingmi di Tanah Papua, 6 April.

Acara ini sangat meriah: umat Kingmi akan berkumpul dari berbagai penjuru untuk memeriahkan kegiatan ini dengan menciptakan pasar sederhana. Mereka akan menjual berbagai macam makanan dan hasil ternak seperti bebek, ayam, kelinci, dll, bahkan hasil kebun. Juga kadang dijual buku2 rohani, Alkitab, dan buku-buku nyanyian rohani. Yang terakhir ini biasanya dari lembaga Gereja.

Mereka (umat), akan berkumpul disebuah tempat yg luas yang telah ditentukan Badan Pengurus Klasis. Biasanya dipusatkan di tempat kalsis. Acara ini dilakukan, biasanya, beberapa hari sebelum Hari Ulang Tahun Kingmi di Tanah Papua.

Lalu, apa hubungannya dengan Yuwo? Adalah pertanyaan yang akan menjawab/'menenangkan' pernyataan-pernyataan yang mengganggu saya belakang ini: "Yuwo daa" atau "Yuwo itu dosa", "Yuwo itu pesta duniawi" dan lain, dan lain. Kegelisahan ini mendorong saya untuk menulis ini. Kegelisahan ini juga, sebenarnya menghinggapi diri saya, sejak saya berada di bangku kuliah, kira-kira, semester 4, 5, atau 6. Yah, cukup lama, setelah dari kecil, SD, SMP, dan SMA sempat mengamini ungkapan-ungkapan, yg menurut saya agak subyektif itu.

Karena pernyataan ini berasal, dan sering dikeluarkan oleh umat Kingmi, maka saya berusaha untuk mencari tahu, asal usul ungkapan itu. Setidaknya yg berkaitan dengan Kingmi. (tentu hanya dengan asumsi. Atau, setidaknya, berandai-andai.

Namun sebelumnya, kita ketahui dulu, apa itu Yuwo? Banyak yang mungkin sudah tahu pengertian Yuwo. Tapi karena saya tahu, banyak juga pembaca yg belum tahu apa itu Yuwo, maka saya akan jelaskan, setidaknya yang saya paham.

Saya juga belum paham pengertian Yuwo secara etimologis dalam bahasa Mee. Tapi Yuwo, umumnya, sering diartikan sebagai Pasar Adat, atau pesta adat.

Yuwo itu Pasar. Konsep pasar orang Mee. Manusia Mee akan memproduksi ternak (Babi) banyak-banyak dan menciptakan pasar untuk menjual hasil produksi tersebut. Tentunya dalam harga yang murah. Harga murah, dalam arti penyerataan harga untuk semua, agar status sosial setiap individu atau keluarga yang berbeda-beda mendapatkan kepuasan yang sama.

Seperti praktek pasar pada umumnya, proses transaksi (jual beli) akan terjadi di sana. Orang dari berbagai penjuru akan datang. Akan berbondong-bondong menghadiri kegiatan yg dilakukan dalam beberapa tahun sekali itu.

Penyelenggara Yuwo adalah daerah di mana produksi Babi dilakukan dalam jumlah yang sangat banyak. Karenanya, di daerah itu, harus ada individu-individu yang kaya secara ekonomi: Ternak yang banyak dan kebun yang luas. Orang orang seperti ini, dalam bahasa Mee disebut "Tonawi". Sampai sekarang, daerah-daerah di meepago, yang dahulu diadakan yuwo, masih mempraktekkannya.

Yuwo itu unik, karena pasar ini diciptakan untuk semua kalangan. Semua merasakan kepuasan yang sama. Tidak ada batas antara orang kaya dan miskin. Dalam hal transaksi, semua rata, semua rasa. Orang yang berkemampuan akan memborong dan membagikan kepada orang yang miskin. Bahkan penyelenggara akan memantau dengan diam-diam, orang-orang yang tidak mampu, seperti janda, duda, anak yatim piatu untuk sebentar memanggilnya dan memberikan sebagian hasil produksi itu.

Yuwo, sebagai pasar, sangat bertolak belakang dengan praktek pasar modern, kapitalisme: Yang kaya untung banyak, dan yang miskin tetap miskin.

Sebagai pasar, moment ini, mungkin, menurut saya, adalah moment dalam suku Mee yang mempertemukan banyak kalangan, banyak unsur dengan skala yang sangat luas. Moment yang langka ini, sering dimanfaatkan keluarga-keluarga dalam suku Mee untuk mencari tahu hubungan keluarga secara utuh, mendengar sejarah-sejarah dalam bentuk dongeng di rumah-rumah yang telah disiapkan penyelenggara. Bahkan moment ini juga, adalah moment di mana para jomblo mencari jodoh. Jadi, yuwo, adalah moment yg nilai sosialnya lebih dominan ketimbang kepentingan pasar itu sendiri.

Yuwo, sekarang, dan dahulu, tentunya saja sudah sangat berbeda. Mungkin praktek pasarnya sudah tidak relevan lagi. meski nilai sosialnya masih saja relevan. Untuk konsep dan praktek Yuwo dahulu dan sekarang kita bisa perdebatkan nanti. Atau teman-teman bisa menyanggahnya di kolom komentar. Tapi saya tidak mau mempersoalkan itu di dalam tulisan ini. Nanti panjang. Saya mau kembali kepada topik saya sebelumnya: Kingmi dan Yuwo:

Tradisi turun temurun yang dilakukan dari sejak dahulu kala ini tiba-tiba saja ingin diruntuhkan dengan dalil teologi, dengan perkataan-perkataan seperti Kafir, dosa, "nanti masuk neraka" oleh sebagaian orang (umat). Termasuk saya sebelum 'gelisah'. Orang Mee (umat Kingmi) sekarang, yang baru mengenal gereja langsung men-cap praktek yuwo dengan narasi-narasi yg subjektif. Apa sih, yang melatarbelakangi narasi-narasi ini?

Saya baru sadar, bahwa, pasar Kingmi, yang sangat dinanti-nantikan oleh umat Kingmi, yang sejak saya kecil, bersama teman-teman menganggap acara paling meriah itu, ternyata adalah kegiatan tandingan Yuwo, yang dibuat oleh para pemberita kabar 'baik'. Atau kegiatan alternatif yang dibuat, karena, meski sudah masuk gereja, para umat ini masi saja mempunyai keingin untuk ke Yuwo.

"Yuwo itu dosa" adalah ajaran misionaris (Kingmi). Bukan Alkitab! Atau mungkin saya yg kurang jelih membaca Alkitab.

Kenapa para misionaris atau pemberita injil itu bisa men-cap Yuwo sebagai aktivitas yang melawan ajaran gereja? Adalah trik misionaris untuk 'menangkan' jiwa-jiwa masuk ke dalam gereja. Trik trik penginjilan yang mengkerdilkan budaya (baik) inilah yang saya persoalkan. Yang semistinya kita, umat Kingmi sekarang kritik.

Kita harus kritik trik-trik penginjilan missionaris yang sangat tidak historis-kontekstual itu. Melarang aktivitas manusia Mee yang baik dengan menakut-nakuti "Yuwo itu dosa", "kalau ke Yuwo nanti masuk neraka" adalah trik penginjilan yang menurut saya menyimpang. Menciptakan narasi subjektif lantaran 'cemburu' dengan kegiatan Yuwo ini musti kita kritik.

Jadi, narasi-narasi tidak baik yang dialamatkan kepada Yuwo adalah narasi-narasi, yang menurut saya sangat tidak Alkitabiah. Karena selama saya tanyakan hal ini kepada beberapa orang tua dalam gereja, semua alasan kelihatan 'rohani' tapi tidak Alkitabiah.

Narasi-narasi subjektif seperti ini, pernah juga dirasakan oleh Zakeus Pakage dan komunitasnya di tahun 1950an, tahun di mana masa-masa penyebaran ajaran Injil semakin subur. Ke'cemburu'an para misionaris ini lahir karena banyak umat yang mulai bergabung dalam komunitasnya. Komunitas Zakheus Pakage, pada akhirnya dilabel sebagai kelompok pengacau, dalam bahasa Mee disebut "Wege Bage". Zakeus juga, oleh misionaris (ogai), pernah difonis gangguan jiwa (gila). Apa yang membuat 'ogai' takut? Bisa baca Gerakan dan Komunitas Zakeus Pakage dalam Disertasi Pdt. Dr. Benny Giay.

Kasus Yuwo dan Gerakan Zakheus Pakage mendapatkan tuduhan yg sama. Tuduhan yang sangat Politis-Teologis. Tentu saja, tidak ada hubungan antara Zakeus Pakage dan Yuwo. Karena, kalau tidak salah, Zakeus juga pernah mengritik Yuwo, tapi, tentu saja kritik dari perspektif yang lain. Saya hanya menyinggung ini lantaran dua kasus ini mendapat label yang sama.

Saya pikir, sekarang saatnya kita buang jauh-jauh narasi buruk itu. Atau setidaknya kita bisa kritik ulang praktek/trik penginjilan para misionaris itu. Kritik ini lebih pada Agama Protestan (Kingmi), ketimbang Katolik yang sudah inkulturasikan budaya ke dalam Gereja.

Saya menulis ini, karena kemarin, 6 Juni 2022, Aiyatei, salah satu kampung di Deiyai, yang sering saya sebut dengan kata "Tanah 'BESAR' Ibo Makiida  ini melakukan pesta Yuwo. Terdorong menulis ini juga, karena, masih banyak sekali keluarga saya dan teman-teman Kingmi, yang masih 'alergi' makan babi Yuwo. Jangankan makan, ke tempat Yuwo, dan menjamahnya saja tidak. Dengan alasan: BERDOSA

Yuwo juga bisa dikritik, tapi tentunya bukan dengan argumen Teologis. Kita bisa kritik di sisi sosial dan ekonomi. Tapi seperti penjelasan saya sebelumnya, bahwa kita akan bahas hal itu di lain kesempatan.

Saya yakin, masih banyak teman2 dari Kingmi yang tidak menerima, atau tidak sependapat dengan saya. Tapi selalu saja kesempurnaan itu dilewati melalui proses komunikasi dan perdebatan. Mari berdiskusi, dengan harapan agar pihak gereja (institusi) bisa melihat dan mempertimbangkan hal ini. Sekian.

 

Yanpit Kotouki

Toko Pemuda Kingmi Jemaat Antiokhia Wakeitei.



Selamat Baca Para Pengunjung Terhormat

Papua

 
Copyright © 2013 Menongko I Ekspresi Hati
Design by MOSES | DOUW