BREAKING
Stop Kekerasan di Papua Barat

Friday, April 20, 2018

Kedatangan Jokowi Menghambat Pertumbuhan Ekonomi Orang Asli Papua

Oleh: Moses Douw

Pertumbuhan ekonomi adalah hal yang penting dalam masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dalam hidup bermasyarakat serta meningkatkan pendapatan keluarga. Pertumbuhan ekonomi merupakan kunci utama untuk membuka pintu pendapatan bagi keluarga serta dalam hidup berbangsa. Secara teoritis pada pertumbuhan Ekonomi merupakan suatu proses yang di lalui oleh masyarakat komunal yang terstruktur.

Proses perkembangan atau pertumbuhan ekonomi pada intinya merupakan proses dimana masyarakat komunal memproduksi barang, dan kemudian digunakan oleh masyarakat sendiri dan pula mendistribusikan. Memproduksi dan mendistribusikan barang adalah sebuah usaha yang membutuhkan perkembangan dalam proses  masyarakat mulai mengetahui dan mengenal cara mengahsilkan barang jadi.

Aliran teori historis yang di kemukakan oleh beberapa tokoh pun demikian. Friederich List (1789–18456) perkembangan ekonomi ditinjau dari teknik berproduksi sebagai sumber penghidupan. Tahapan pertumbuhan ekonominya antara lain: masa berburu, masa beternak atau bertani, masa bertani dan kerajinan, masa kerajinan industri dan perdagangan. Hal ini adalah sebuah proses dimana masyarakat belajar berdasarkan tahapan perubahan perekonomian.

Pasa dasarnya manusia yang mendiami di bumi ini merupakan cara bertani yang unik yang dimiliki oleh setiap suku, ras, bangsa di bumi ini. Manusia yang berdiam di Nusantara (nusa antara dua benua dan dua samudra) merupakan masyarakat bercocok tanam yang hanya memproduksi untuk mengonsumsi pada tingkat dasar rumah tangga. Manusia di bumi Indonesia belum mampu dan mengenal pentingnya pertanian industri. Namun, dalam proses pertumbuhan perkembangan penjajahan di Nusantara menjadi dasar dalam perkembangan pertumbuhan Ekonomi.

Ketika Belanda menduduki Indonesia adanya kerja paksa untuk menjadikan orang Indonesia menjadi pekerja kasar atau buruh kasar dalam sistem pertanian belanda. Sistem pertanian di daerah kolonial lebih pada penguasaan potensi alam atau istilanya adalah rempah rempah. Kedatangan bangsa eropa di Indonesia hanya dengan kepentingan dengan mengajarkan proses.

Dan pada saat itulah masyarakat Indonesia mengenal dan belajar lebih dalam berkaitan dengan sistem pertanian industri dan ekonomi makro. Tak terbatas pada itu masyarakat Indonesia khususnya di Jawa pula mampu bersaing di Dunia dengan proses penjajahan yang di laluinya pada masa kolonial Belanda.

Pada sebelumnya masyarakat jawa sangat mengenal dengan sistem kapitalisme di tanah jawa dan tidak hanya mengenal mereka sendirilah yang menjadi buruh kasar dalam sistem pertanian industri sehingga penguasan ekonomi orang jawa dan pulau lain sangat tinggi di banding Orang Papua. Tahapan pertumbuhan atau perkembangan ekonomi menurut Werner Sombart adalah zaman perekonomian tertutup, zaman perekonomian kerajinan dan pertukangan, zaman perekonomian kapitalis (Kapitalis Purba, Madya, Raya, dan Akhir). Zaman ini masyarakat Jawa telah di lewati dengan mempelajari penguasaan Ekonomi Kapitalisme.

Kini menjadi sebuah perbandingan besar bagi orang Papua dan keberadaan Indonesia di Papua adalah sebuah ilusi dan sebuah cerita yang menarik untuk kita amati dari berbagai perspektif dengan tidak mengucilkan unsur unsur variabel antara Indonesia dengan provinsi Papua.

Pertumbuhan Ekonomi Orang Asli Papua dan Non-Papua

Berdasarkan penjabaran di atas sangat jelas bahwa Pertumbuhan Ekonomi yang pada dasarnya adalah keadaan dimana manusia memproduksi dan mengonsumsi seiring dengan proses kegiatan pembelajaran dari tinggkat perkembangan manusia.

Dengan demikian perlu kita ketahui bahwa dengan proses penjajahan dari kolonia belanda di Indonesia sangat berpengaruh dalam pertumbuhan Ekonomi. Rentan waktu penajajahan Belanda di Indonesia bagian barat berkisar 3 abat yang mana mempelajari sistem pertanian industri jangka panjang. Sedangkan, Pulau Papua tidak sampai 1 abad. Belanda menjajah Papua tidak hanya mengeksploitasi namun mengajarkan proses pertanian jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek.

Dalam buku Rosmaida Sinaga (3013) Masa Belanda di Papua selama 1898-1962 perluasan pengaruh Belanda dalam pemerintahan kolonial adalah terciptanya keamanan,, tersedianya sarana prasarana,  terbentuknya pelayanan (pendidikan, kesehatan, tata kelolaan lingkungan dan pemerintahan) dan perubahan ekonomi masyarakat setempat. Perubahan ekonomi masyarakat setempat di tandai dengan adanya perubahan di bidang pertanian, dan megembangkan usaha kecil menengah di Papua. Tak hanya itu, perkembangan kampung di hadirkan dengan adanya berbagai kemampuan dan mulai mengenali aspek ekonomi yang kemudian di kembangkan dalam bentuk koperasi dan lainya hingga Tahun 1990-an.

Namun, dalam perkembangannya Papua berhasil Aneksasi kedalam Negara Indonesia yang kemudian semua dampak dan pengaruh baik dari pemerintah Belanda berhenti. Sehingga perkembangan orang Papua dalam Negara Indonesia hanyalah sebuah objek yang tidak di kembangkan. Ketika itulah pukul mundur pertumbuhan ekonomi Orang Asli Papua.

Orang Asli Papua dan Orang Non-Papua adalah pemilik tanah Papua namun OAP adalah pemilik hak ulayat tanah adat Papua sedangkan orang non Papua adalah migrasi dari Pulau lain di Indonesia. Secara proses perkembangan pertumbuhan ekonomi orang Asli Papua masih Pada tahap bertani, berburuh dan beternak hanya pada konsumsi keluarga atau kesejahtraan keluarga.

Imigran di Tanah Papua pada sebelumnya telah melewati berbagai proses pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Hal ini akibatnya mengusai Tanah Papua dengan Industri skala local dan pertanian industri. Pertanian industri skala Nasional di Merauke seperti MIFFE yang membuka daerah isolasi tanpa adanya seizin orang asli Papua.

Pertumbuhan ekonomi Orang Asli Papua dan Non-Papua di tentukan dengan berjalannya masa penjajahan Belanda di Indonesia dan Belanda. Namun, lebih rentan mendapatkan dampak positif dan pengaruh positif dari penjajahan adalah Jawa dan beberapa Pulau di Indonesia. Sedangkan Orang Papua tidak mendapatkan manfaatkan sebab, rentan waktu sangat singkat di banding daerah lain.

Sehingga Orang Asli Papua kini berada pada tingkat pengelolaan ekonomi klasik atau pada sistem ekonomi tinggi. Orang asli Papua masa kini hanya memanfaatkan alamnya namun belum bisa mengelola ekonomi industri jangka panjang. Tetapi, pertumbuhan ekonomi Non-Papua sangat pesat di Papua dengan menguasai semua sudut sudut ekonomi. Maka kini yang menjadi pertanyaan dari penjabaran diatas ini adalah bagaimana langkah yang diambil Jokowi dalam Pertumbuhan Ekonomi Orang Asli Papua? Apakah kunjungan-kunjungan yang belaka dan ataukah mampu membangkitkan Ekonomi Orang Asli Papua?

Kedatangan Jokowi menghambat Pertumbuhan Ekonomi

Kedatangan Jokowi di Papua merupakan kunjungan kerja yang patut masyarakat dan pemerintah provinsi Papua apresiasi dengan bentuk kepeduian dari Presiden Jokowi yang sangat dekat dengan orang Papua. Kunjungan presiden di Papua sangat terharuh. Namun pada prosesnya kunjungan presiden ini di nilai dari baik dan juga buruk dari berbagai pihak serta organisasi.

Di Pandangan akademisi dan mahasiswa kedatangan jokowi merupakan tidak menyelesaikan masalah social, ekonomi, politik dan pemerintahan di Tanah Papua. Secara spesifik masalah sosial, ekonomi dan politik tidak di selesaikan dengan baik dan masih menjadi masalah kemanusian dan sosial di Tanah Papua.

Dengan kedatangan Jokowi di Tanah Papua sangat mengesampingkan persoalan yang sebenarnya masyarakat Papua alami. Persoalan utama orang Papua pada saat ini alami seperti pertama masalah marjinalisasi dan efek diskriminasi terhadap Orang ASli Papua (OAP) akibat pembangunan ekonomi, konflik politik, dan migrasi massal ke Tanah Papua sejak Tahun 1970.

Kedua, lanjutnya, kegagalan pembangunan terutama di bidang pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Ketiga, kontradiksi sejarah dan konstruksi identitas politik antara Papua dan Jakarta, serta keempat, soal pertanggung-jawaban atas kekerasan negara di masa lalu terhadap warga negara Indonesia di Tanah Papua.

Berdasarkan kutipan TEMPO.CO Presiden Jokowi menegaskan akan membuka isolasi daerah dengan membangun infrastruktur di Papua seperti jalan Trans Papua, jembatan, pelabuhan, bandara dan konstruksi lainnya bertujuan untuk memudahkan akses dan mobilitas orang Papua dari satu area ke area lainnya. Hal ini secara, umum patut kita apresiasi namun apakah dengan infrastruktur pertumbuhan Orang Asli Papua?

Namun, dengan membuka daerah isolasi yang diwacanakan JOKOWI adalah sangat mengundang multiproblem bagi orang asli Papua. Bahkan membuka jalan bagi kapitalis untuk mengeksploitasi bagi Alam Papua. Tidak hanya ini, akan adanya mobilisasi umum dari Jawa dan daerah lain ke Papua. Kejadian seperti ini terjadi kapan orang Papua itu di Bangun?

Disisi lain, yang di lansir dalam tabloidjubi.com kunjungan Jokowi yang sering dilakukan di Papua menggarisbawahi kegagalannya memenuhi janjinya untuk menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia di provinsi timur. Jika Jokowi terus mengabaikan upaya untuk menyelesaikan kasus, komitmennya dalam mengembangkan Papua akan menghadapi ketidakpercayaan yang besar oleh orang Papua.

Pertumbuhan Ekonomi yang sebenarnya adalah Hubungan dengan Kapasitas manusia, harkat manusia, pengetahuan manusia dan perkembangan manusia. Bukan pertumbuhan akan ada dengan pembangunan infrastruktur dan lainya yang di wacanakan oleh presiden Jokowi.

Maka itu. pertumbuhan atau perkembangan ekonomi di nilai dan di klasifikasi dengan berapa banyak manusia orang asli pupua yang bebas dari ketidak tahuan tentang ekonomi.

Solusi Pertumbuhan Ekonomi Bagi Orang Asli Papua

Dengan demikian, berapa banyak kunjungan kerja Jokowi di Tanah Papua tak akan pernah mengatasi masalah pertumbuan ekonomi bagi orang asli Papua apabila tidak secara irit menyelesaikan faktor faktor penghambat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di Tanah Papua.

Oleh Karena itu, untuk menumbuhkan pertumbuhan ekonomi Orang Asli Papua yang di Wacanakan dengan teori Wolt Witman Rostow dan Werner Sombart tentang pengembangan orang asli dengan migran maka yang harus di perhatikan untuk Papua dan Orang Asli Papua  adalah sebagai berikut:

Pertama: masalah marjinalisasi dan efek diskriminasi terhadap Orang ASli Papua (OAP) akibat pembangunan ekonomi, konflik politik, dan migrasi massal ke Tanah Papua sejak Tahun 1970. Kedua, lanjutnya, kegagalan pembangunan terutama di bidang pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi rakyat.

Ketiga, kontradiksi sejarah dan konstruksi identitas politik antara Papua dan Jakarta
Keempat, soal pertanggung-jawaban atas kekerasan negara di masa lalu terhadap warga negara Indonesia di Tanah Papua.


Daftar Pustaka
Sinaga, Rosmaida. 2016. Masa Kuasa Belanda di Papua (1898-1962). Jakarta. Buku Kita
www.braind.id/agenda-kunjungan-presiden-jokowi-ke-papua-barat-dinilai-tidak-jelas di Unduh 19 Apri 2018
Douw. Moses. 2013. Pertumbuhan Ekonomi di Desa Diyai. Nabire. Karya Ilmiah


Penulis adalah mahasiswa sedang kuliah di Semarang

TENTANG ""

Mosesdouw.blogspot.com adalah website privat Moses Douw yang memuat berbagai tulisan. Apabila perbanyak atau copas tulisan dalam website ini, tolong sertakan alamat lengkap. Terima Kasih

2 comments:

 
Copyright © 2013 Menongko I Ekspresi Hati
Design by MOSES | DOUW