BREAKING

Jumat, 06 April 2018

Resensi: Kibarkan Sang Bendera Makanan


Judul          : KIBARKAN SANG BENDERA MAKANAN (Gerakan Pemulihan Habitat Untuk Membangun Martabat Hidup Orang Papua Proto)
Penulis        : Nason Pigai
Tahun Terbit: 2015
Resentor     : Moses Douw

 “Gerakan Pemulihan Habitat Untuk Membangun Martabat Hidup Orang Papua Proto”
Nason Pigai mantan kepala distik Kamuu Utara yang kini sedang menjabat sebagai kepala bidang pengembangan usaha perikanan di dinas peternakan dan perikanan kabupaten Dogiyai menuliskan sebuah buku “KIBARKAN SANG BENDERA MAKANAN. Gerakan Pemulihan Habitat Untuk Membangun Martabat Hidup Orang Papua Proto”

Lewat bukunya, penulis ketegahkan beberapa pendekatan sebagai acuan dalam gerakan pemulihan habitat yang terbangunnya martabat hidup orang Papua Proto melalui spirit bertani.
Menurut Nason, dikatakan pemerintah yang mandiri, gereja yang mandiri, keluarga yang mandiri, masyarakat yang mandiri dan seterusnya indikator pertama harus diukur dengan keotonomian pangan, karena efek makananlah manusia menjadi sehat, cerdas, beriman, berada, tentram damai dan seterusnya.

Lebih lanjut, penulis dapat menjelaskan dalam ulasannya bahwa; salah satu materi atau sarana ciptaan Tuhan yang sangat aktif berperan dalam hidup dan kehidupan manusia dari bentukan janin dalam rahim ibu hingga ke liang lahat adalah makanan.

Manusia terbentuk karena makanan, ikut bertumbuh dalam rahim karena gisi makan dan dilahirkan hingga berlangsunkan kehidupan di dunia karena makanan. Oleh  karenannya, Nason Pigai dalam bukunya dapat memberikan pokok-pokok pikiran jernih dalam kerapu
1.    Makanan sebagai sarana pembentuk manusia - Mee Komugai
2.    Makanan sebagai sarana pembentuk kesehatan - Mobu Komugai
3.    Makanan sebagai sarana pembentuk kecerdasan - Epi Komugai
4.    Makanan sebagai sarana beramal kasih- Ipa Komugai
5.    Makanan sebagai sarana berbisnis - Edepede Komugai
6.    Makanan sebagai sarana berpesta - Yuwo Komugai
7.    Makanan sebagai sarana dalam semua aktivitas manusia hingga kembali ke liang lahat pun dirayakan pesta makanan yang dikenal dengan sebutan suku Mee “Dagouwo”.
Sementara dalam ulasannya dapat dilihat dari dua sudut pandang bahwa makanan bisa menjadi sarana pembawah berkat dan juga bisa membawa petaka dalam kehidupan manusia. Artinya, makanan pada dasarnya berkat tetapi ketika orang-orang tertentu dibalikkan berkat itu menjadi petaka bagi orang lain dengan melakukan sesuatu yang jahat kepada orang lain. Milasnya, melalui makan membunuh dengan cara masukan obat jahat dalam makanan.

Makanan yang telah menjadi berkat, kehidupan dan kecerdasan hidup itu, kini dilumpuhkan atau sedang menujuh jalan kepunahan yang disebabkan karena prilaku manusia yang tak bermartabat, seperti yang diulaskan oleh Nason Pigai dalam bukunya “KIBARKAN SANG BENDERA MAKANAN. Gerakan Pemulihan Habitat Untuk Membangun Martabat Hidup Orang Papua Proto”

Pertama, Pengawai negeri sipil atau swasta, urusan makanan kebanyakan hanya tergantung pada gaji dan jatah berasnya, karena merasa tua besar dengan status pengawainya. Akhirnya sedikit tersingkir jiwa kerja tanian.
Kedua, Kaum terpelajar, urusan makanan hanya tergantung kepada orang tua dan sanak-saudaranya, kyaarena merasa dirinya maha besar dengan gelar yang diraihnya. Akhirnya budaya kerja bertani pudar dari pundaknya.

Ketiga, Pemerintah daerah (pejabat orang asli Papua), urusan makanan hanya tergantung pada hasil-hasil produksi dari pabrik atau dari daerah lain walaupun makanan lokal ada.
Keempat, Pejudi  atau status sosial apapun, urusan makanan tergantung kepada orang lain karena waktu untuk bekerja-adakan bahan makanan dimanfaatkan hanya untuk judi. Misalnya hitung togel sampai waktu habiskan.

Kelima, Pemabuk, aibon dan lainnya, urusan makanan tergantung kepada keluar atau orang lain, karena dirinya sibuk dengan konsumsi atau pesta miras. Dan seterusnya.
Melihat adanya pergeseran identitas budaya dalam hal pengadaaan pangan lokal yang kian hari kian merosot itu, maka Nason Pigai sebagai anak adat Papua yang pernah hidup di “Makewapa” (tempat bersejarah suku Mee) dapat mengatakan bahwa “Orang Papua Harus Rekonsiliasi akan Budayanya”. 

Orang Papua harus mendeklarasikan kemerdekaan identitasnya dengan prinsip, yakni: Aku adalah Aku, Sukuku adalah Sukuku, Bangsaku adalah Bangsaku, Makananku adalah Makananku, Negeriku adalah Negeriku, Bahasaku adalah Bahasaku, Budayaku adalah Budayaku, Gerejaku adalah Gerejaku dan seterusnya.

Deklarasi ini dinilai penting dan utama dalam mempertahankan identitas budaya juga pangan lokal dalam kehidupan orang Papua proto. Bangsa yang dikatakan besar ketika identitas budayanya sudah merdeka. Bangsa yang dikatakan besar ketika menghargai produk lokal termasuk makanannya. Bangsa yang dikatakan bermatabat ketika kebutuhan pokok “makanan” sudah terpenuhi.


Yogyakarta, 4 April 2018

TENTANG ""

Mosesdouw.blogspot.com adalah website privat Moses Douw yang memuat berbagai tulisan. Apabila perbanyak atau copas tulisan dalam website ini, tolong sertakan alamat lengkap. Terima Kasih

Post Comment

Posting Komentar

 
Copyright © 2013 Menongko I Ekspresi Hati
Design by MOSES | DOUW